Ombak, Pantai dan Angin

Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.

Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu Continue reading “Ombak, Pantai dan Angin”

Senyum Janda Mardi

Pada batas sebuah negeri, di dusun yang sepi. Janda Mardi hidup bersama dengan dua putrinya. Bukanlah hal yang mudah menjadi ayah sekaligus ibu.

Marni, si sulung pintar bersolek. Betah sekali bila sudah berada di depan cermin. Lain lagi adiknya, Marti. Yang satu ini, begitu pintar bergaul, banyak teman dimiliki. Akhirnya, tinggallah Janda Mardi bersendiri, malam-malam sepi. Terkadang, menangis tanpa suara di biliknya.

Benaknya melayang pada Marni yang siang tadi meminta uang untuk bedak dan gincu. Pikirannya berlarian mengingat si Marti yang begini larut masih juga belum pulang. Continue reading “Senyum Janda Mardi”

Cerita: Suara, Kata, Ara

McDonalds Atrium Senen 10.50 WIB. Udara dikondisikan dengan menggunakan mesin pengatur. Lengas di luar pun tak kuasa menerobos dinding kaca. Minum es krim rasa coklat bercampur susu, pada kemasannya tertulis McFlurry.

Dua gelas plastik McFlurry di atas meja mulai mengembun. Butiran air menempel di luar gelas terasa dingin. Dan es krim, tidak lagi memadat. Perlahan mencair, terasa lebih lembut, meleleh di lidah.

Bila diam adalah batu, maka kata-kata mencairkan kebekuan itu.  Continue reading “Cerita: Suara, Kata, Ara”

Bulan, Terang Samar

Kemarin bulan tersenyum
Ada dua planet yang menjadi mata
Entah kenapa, bulan sabit pun membentuk senyum
Aku pun tertawa

Malam ini awan menutupnya
Meski
Sekilas aku masih bisa melihatnya
Walau
Kadang samar kadang tersembunyi

Kemarin bulan tersenyum
Ada dua planet yang menjadi mata
Entah kenapa, bulan sabit pun membentuk senyum
Aku pun tertawa

Malam ini awan menutupnya
Meski
Sekilas aku masih bisa melihatnya
Walau Continue reading “Bulan, Terang Samar”

Anak Ke Lima

“Ohm, terima kasih, ya. Di antara ke lima anak Ibu, Ohm, yang paling mengerti Ibu.”

Begitulah pesan singkat yang diterima hape saya dari putri Ibu kos yang tinggal nun di Bali sana. Putra dan putri Ibu kos memang sebenarnya hanya empat orang saja. Namun, setelah saya tinggal di sana hampir dua tahun lamanya akhirnya pengakuan itu tiba juga.

Bukan kos-kosan, saya harus mengakui kos saya di Klaten itu begitu. Bagaimana tidak? Bila di sana saya tinggal sendiri tanpa memiliki teman kos. Sehari-hari saya hanya bergaul dengan Ibu dan Bapak yang pensiunan dan lebih sering di rumah dari pada bepergian. Tidak sepanjang hari memang saya berada di kosan. Hanya bila senja menjelang sampai dengan mentari beranjak naik saya akan berkeliaran dari kamar ke kamar mandi, kembali ke kamar.

Putra dan putri yang berjumlah empat orang itu, semuanya telah berkeluarga dan masing-masing menempati rumahnya sendiri. Sebagai anak kos tunggal di situ, saya benar-benar memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Tidak banyak sebenarnya fasilitas yang tersedia karena memang keluarga Ibu dan Bapak sungguh bersahaja.

Meski begitu, segelas teh hangat di kala pagi dan bila malam menjelang leluasa bisa saya bikin. Air panas selalu tersedia di dalam termos. Tak perlu permisi saya mengambilnya. Hal yang sama juga saya lakukan bila ingin meminum air putih penawar haus. Semua tersaji dalam teko-teko plastik berukuran besar yang selalu siap di dapur.

Di masa-masa awal, tentu saja canggung itu ada. Selalu berhati-hati dalam bertindak dan sebisa mungkin tidak menimbulkan masalah. Tetapi, barangkali usia telah mendewasakan Bapak dan Ibu berdua. Beliau tidak pernah mengekang saya; tahu betul apa kemauan anak muda. Akhirnya segan muncul di dada dan sebisa mungkin menjaga kepercayaan yang diberikan.

Tidak banyak yang saya haturkan untuk beliau berdua kecuali beberapa bingkisan kecil dari rumah di kampung titipan Ibu. Terkadang, bila sehabis rapat masih ada hidangan dalam kotak tersisa, saya akan membawanya pulang, sekadar berbagi, tetapi akhirnya masuk pula ke perut saya.

Bila bulan puasa tiba, begitu sukar mencari makanan untuk sahur di kota kecil seperti Klaten. Akhirnya, Ibu pun harus saya bikin repot dengan menyiapkan segala hidangan alakadarnya. Tentu tidak mudah mengingat selera saya yang agak aneh dan terbiasa dengan warung makan. Berhati-hati Ibu akan menanyakan, “Mas, nanti malam menunya apa, ya?” Tanpa dosa saya akan berkata, “Terserah Ibu mawon, saya manut.”

Menjengkelkan, bukan? Tidak semua makanan bisa saya makan. Bukannya pilih-pilih atau tidak doyan, tetapi sungguh saya tidak suka. Sudah begitu, saat ditanya menu saya bingung bagaimana menjawabnya. Kurang ajarkah, saya? Ya, begitu barangkali jawaban yang pas.

Dua kali lebaran saya lewatkan di sana. Memang pada saat hari H dan beberapa hari setelahnya saya berada di rumah di kampung. Namun, bila hari kerja akan dimulai, saya akan kembali ke kosan diawali dengan sungkem kepada Bapak dan Ibu kos. Ah iya, sebelum pulang kampung menjelang hari raya, biasanya saya akan sibuk menyiapkan bingkisan untuk Bapak kos. Sebenarnya ingin juga memberikan sesuatu kepada Ibu, namun terus terang selalu kesulitan memilih apa yang pas. Bila baju, saya tidak tahu ukurannya. Mukena, sajadah sudah sangat banyak di almari dekat tempat sholat itu. Adapun bingkisan untuk Bapak, mudah sekali karena tubuh beliau hampir sama dengan saya, jadi tidak terlalu menyulitkan saat penentuan ukuran.

Lebaran kemarin saya pun mencoba untuk menghaturkan sekadar bingkisan kepada Ibu. Saya teringat adik yang selalu mendapat bingkisan dari sekolah tempatnya mengajar. Rupa-rupa bingkisan itu: minyak goreng, sirup, sabun mandi dan cuci, gula, teh dan beberapa barang kebutuhan lainnya. Ide itu, mentah-mentah saya tiru, belanjalah saya di supermarket dan membeli semua kebutuhan itu.

Sesampainya di kos, saya haturkan begitu saja tanpa membungkusnya dengan bungkusan parcel sekadar agar nampak lebih indah. Ibu pun mengucapkan terima kasih sekadarnya, tak berlebihan dan tak lupa tersenyum.

Hal yang saya tidak pernah tahu adalah: beliau menceritakan apa yang saya lakukan kepada mbak kos –putri satu-satunya Ibu—yang tinggal di Bali itu. Cerita Ibu tersebut, berbuah pesan singkat di awal tulisan ini. Aneh… saya tidak pernah menyangka akan menerima pesan seperti itu. Bagi saya, apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa dan tidak pantas disebut, apalagi dibanggakan.

Saat membaca pesan tersebut ada perasaan haru yang menyeruak perlahan-lahan. Pada kata ‘di antara ke lima anak Ibu, Ohm yang paling mengerti Ibu’. Saat itu, saya merasa dianggap sebagai saudara. Ke lima, justru memberikan arti melengkapi yang empat.

Perasaan dianggap, diuwongke –dimanusiakan—ternyata memberi nilai yang penting. Di sana kemudian saya merasa bukan hanya sebagai anak kos. Meski pengakuan dari Mbak kos itu tidak diikuti oleh pengakuan secara langsung dari Mas-mas yang lain, pun Ibu dan Bapak namun itu saja sudah cukup. Menjadi bagian dari sebuah keluarga di sana begitu membanggakan sekaligus mengharukan untuk saya pribadi. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupa. Bahwa mengakui, menganggap penting, menghargai kehadiran masih dibutuhkan.

Selalu, di tempat yang asing; jauh dari orang-orang terdekat dan terkasih mudah sekali membuat; mengundang haru. Penerimaan dengan tangan dan hati terbuka, meski tentu saja melalui proses yang berliku akan membuahkan senyum. Akhirnya, jangan heran bila sebuah pesan singkat bisa mendatangkan cairan bening; tipis di mata, isak tertahan dan helaan nafas panjang. Saat itu, mungkin ketika sisi-sisi paling lembut di kedalaman dada sana terusik.

Selamat menikmati hari-hari di sana Bapak dan Ibu, mungkin sekarang lebih tenang karena tiada saya yang tiap malam pulang terlambat membuka rolling dorr. Selamat beribadah dengan tenang tanpa saya ganggu dengan suara-suara dari televisi atau winamp yang dimainkan. Berdua saja di hari tua, semoga saya juga bisa mencapai kebahagiaan di usia senja seperti apa yang sehari-hari saya saksikan dari Anda berdua. Terima kasih untuk semuanya, termasuk pesan-pesan yang semoga tak lekang dimakan waktu.

Di Balik Bayang

Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.

Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:

Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.

“Ila, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.”

“Bentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.”

Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.

“Ayo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.”

“Tetapi, ma…. “

Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.

Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna. Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.

Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.

“Kamu ngga papa, Ila?”

Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.

“Kamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.”

Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.

Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.

Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.

“Papa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?”

“Karena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.”

“Tetapi, Pa….”

“Sudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.”

Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.

Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.

Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.

Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.

Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.

Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.

Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.

Bilakah?

asal gambar

Hati, Buka Buku

Sahabatku pernah berkata, “Kehidupan seperti membuka halaman demi halaman sebuah buku.” Kita tidak akan pernah mengerti sebuah halaman sampai selesai membacanya. Apa kisah yang ada di dalamnya; cerita seperti apa yang mungkin tersaji, dari halaman-halaman itulah semua bisa didapatkan, dimengerti.

Aku merangkai kisahku sejak lama. Dalam tiap halaman bisa kamu temukan semua kisah itu, tetapi mungkin juga tidak. Barangkali saat itu, ketika kamu menemui sebuah gambaran yang buram, samar atau kusembunyikan. Di bukumu, aku pun menemukan beragam kisah yang sudah kau rangkai sejak lama. Tidak semua halaman dapat kumengerti, maka akan kutanyakan kepadamu apa makna gambar yang buram, tulisan yang centang perenang dan berpusaran. Tak semua juga akan kumengerti. Mungkin halaman-halaman itu kau sembunyikan; sobek dari kesatuan buku.

Aku tidak akan bertanya tentang rahasiamu bila itu memang menjadi rahasiamu. Pun aku tidak akan bercerita tentang rahasiaku bila kamu bertanya. Rahasia akan melindungi kita, sayang. Biarlah lembaran yang gelap itu tetap menjadi gelap. Masa lalu mungkin akan kita tilik di tengah-tengah hening ketika kita merinduinya untuk satu saat yang penat. Tak apa, bukan kesalahan bila kamu dan aku membuka lembaran yang telah lewat. Sekedar untuk mengenangkannya.

Seperti kata Gibran, “Dari masa lalu, dua buah cawan kita dapatkan. Sebuah cawan tentang kesedihan yang kita minum saat gembira agar kita tidak terlalu bergembira dan sebuah cawan kegembiraan yang kita minum saat kita sedih agar tidak terlalu bersedih.” Pun dengan membacai ulang semua kisah yang lewat, kita mungkin bisa belajar dari sana. Tidak terperosok pada lubang yang sama.

Tetapi baiklah, kita tidak akan berbicara tentang masa lalu. Saat ini kita juga sedang menulis cerita. Masa depan belum lagi ditulis. Halaman itu masih kosong, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada halaman-halaman itu. Sebuah kejutan macam apa yang akan menunggu di sana? Baiknya kita tunggu sampai halaman itu habis kita baca.

Mungkin kau masih ingat saat bersama kita membaca ‘Bumi Manusia’ di dalamnya ada sebuah pesan Jean Marais kepada Minke, kira-kira begini, “Cinta itu, Minke, terlalu indah untuk bisa didapatkan dalam hidup kita yang singkat ini.”

Aku tak mengerti berapa lama kita akan terus bernafas. Pada titik mana detak jantung ini akan istirahat tak jua ‘ku punya jawabnya. Karena itu, kuminta kau sudi menemaniku di sini sebentar, lebih singkat dari hidup yang sudah singkat itu. Maukah kamu?

“Untuk apa aku di situ menemanimu?”

Merangkai kisah kita. Begitu aku akan menjawabnya. Benar memang aku sudah memiliki buku yang tak juga akan habis bila kutuliskan semua ceritaku. Pun kisahmu barangkali akan memenuhi bukumu yang tiap hari akan terus kau tulis. Pada titik ini sebenarnya aku bingung, untuk apa aku memintamu di sini menemaniku menuliskan kisah, toh aku sudah memiliki cerita juga kamu.

Tetapi, Ra, dalam lembaran-lembaran yang kutulis banyak tanya. Sebentuk harap: tentang hati yang merindu. Menanti jawaban*. Aku tak mengerti bagaimana rupa bukumu. Sudahkah lengkap semua tanda baca kau pakai; apakah kau juga punya tanda tanya? Sebentuk mimpi: tentang hari yang indah berpelangi.

Bila menjadi kisah kita, maka tidak bisa aku menuliskannya sendiri, Ara. Kubutuhkan kamu untuk melengkapinya, menjadi aku dan kamu, kita.

“Bi, bila aku sudah di situ membuat cerita denganmu dan menjadi kisah kita. Apakah kemudian kamu tidak akan bertanya-tanya lagi? Benarkah kamu akan menemui semua jawab? Apakah mungkin juga ‘kan kutemui hari berpelangi?”

Tidak, Ra. Sebentuk tanya, berbentuk tanya bahkan masih akan menggodaku. Entahlah, tanda baca itu begitu memesonaku. Pun tak bisa kujanjikan hari berpelangi, semacam tak bisa kuramalkan esok hari hujan akan datang gerimis atau lebat.

Namun denganmu di sini; dekat-lekat. Aku tahu, Ra, bahwa harapan masih ada. Sebuah hati yang tidak lagi merindu. Meski mungkin aku kangen utamanya bila kau jauh.

Saat kau di sini; dekat-lekat. Hujan gerimis; tik-taknya di genting akan menjadi melodi. Sekali saat boleh juga kita bermain hujan; berpelukan saat riciknya membasahi tubuh kita; hati kita. Bila lebat, maka di balik jendela yang mengembun kamu dapat menggoresnya dengan jemarimu dan menggambarkan sebuah tanda hati. Saat itu, biarkan aku memelukmu dari belakang; membauimu, menghangatimu. Tak lupa, bila sekali tempo kita beruntung dan pelangi terlihat selepas hujan kita akan memandangnya.

Selayaknya hujan, Ara, barangkali ada kilat menyambar membiarkan terang meraja begitu singkat. Pula guruh yang menggelegar menyiutkan nyalimu. Aku pun takut bila saat itu tiba, seperti sebuah kenyataan yang dirampas tiba-tiba. Terkenang saat aku kecil sepulang sekolah berhujan-hujanan dan guruh datang. Aku berjongkok di bawah lindungan daun pisang yang tak kuasa menahan titik hujan. Aku takut, nyaliku pun menciut sama denganmu. Barangkali itulah detik di mana kebahagiaan kita terampas, bukankah dapat kita rebut kembali? Tentu… tentu bila kamu bersedia bersamaku memintanya.

Akhirnya, Ra, aku membutuhkanmu dalam hari yang cerah untuk mengisi jiwa yang sepi*. Tatkala berpelangi untuk menggoreskan warnanya sendiri di hati. Saat gerimis untuk menggetarkan nada nadi di dalam dada ini. Pasti juga ketika hujan lebat, di mana kilat dan guntur menyambar; menggemuruh, sekedar berpegangan tangan, menguatkan nyali.

Di sini memang kugunakan Ara. Tetapi bila satu ketika ada yang memanggilmu aunty atau bibi, maka menengoklah, Ra, mereka adalah sahabatku. Dan aku, akan memilih Chinta atau Chien. Entah kenapa.

*) sebuah lagu Padi

**) sebuah lagu Peterpan.

asal gambar

Mereka yang Memakan Sisa-Sisa

Langit sebagai atap rumahku Dan bumi sebagai lantainya Hidupku menyusuri jalan, sisa orang yang aku makan

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu?

Pun dengan hal sederhana seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Saya meski tidak selalu tepat waktu namun syukur setiap hari masih bisa makan. Pakaian saya tidaklah bermerk terkenal, seringkali malah membeli batik dari pengrajinnya di pedalaman kabupaten sana, namun syukurlah setiap hari saya selalu berganti pakaian yang bersih habis dicuci.

Dahulu pernah mengidamkan gaya hidup yang menjadikan langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai. Tidak; bukan karena lagu Kak Rhoma saya inginkan hal itu. Tetapi kebebasan yang ditawarkannya demikian menggoda di tengah kungkungan belenggu orang tua pada masa-masa awal remaja. Syukurlah keinginan yang ini hanya bertahan menjadi keinginan tak pernah menjadi kenyataan. Tak terbayangkan betapa mengerikannya diselimuti dingin, berteman kabut bila dini hari tiba di peraduan saya yang kemungkinan akan sangat luas itu. Belum dihitung bagaimana bahaya mengintip di balik setiap lirikan mata. Entah karena beberapa barang yang menempel di badan ataukah karena menaksir diri ini.

Mereka yang hari ini tidak makan seperti juga kemarin dan kemarinnya lagi barangkali masih mudah ditemukan. Sahabat yang bertelanjang, membugil kedinginan, meringkuk di pojok gang mungkin masih mencoba bertahan di sana. Sebagian mereka lari, menceburkan diri ke sungai menghindari operasi yang dilakukan oleh aparat penertiban.

Mereka yang lari untuk kemudian kembali. Perut mereka tak pernah berhenti berdendang. Gigil tubuh mereka tak bosan diterpa debu jalanan. Akrab kah mereka dengan embun dan kabut? Suara-suara itu.

Lampu bangjo di perempatan menjadi modal sebagian yang lain. Tutup botol di ujung kayu berbentuk mirip penggaris menjadi pelengkap modal. Sumber daya mereka adalah suara yang timbul tenggelam di tengah makian, bebunyian klakson.

Ada pula yang ber-tas-kan karung di punggungnya. Besi melengkung menjadi senjatanya menyusuri jalanan, pekarangan rumah, memunguti plastik, koran, perabotan bekas. Terkadang beberapa yang nakal tak peduli bila perabotan itu masih dipakai, baju di jemuran yang menunggu kering. Mereka gelap mata, kalap. Dilolosnya perlahan-lahan, diambilnya, dimasukkan ke dalam karung. Sebuah pencurian.

Perut berdendang nyaring. Melapar minta makan. Tubuh menggigil sering. Kedinginan minta pakaian. Hujan datang terik meradang. Sebuah hunian menjadi tuntutan.

Tidaklah heran bila kereta yang saya lewati menjelang stasiun itu seperti enggan beranjak. Di kanan kirinya mereka yang terpinggirkan bermukim. Besi-besi pembatas permukiman dan rel malah dijadikan bagian dari dinding rumah. Ada pula yang menyampirkan celana dalam, kutang berenda di batang-batang bergaris biru putih itu. Terpal biru dipasang pula pada besi-besi itu, dengan penyangga direntangkan sampai ke pinggir rel begitu dekat merangkul kereta-kereta yang datang.

Wajah kota ini pada sisi yang sebelah sini bopeng. Seng-seng silang sengkarut di bawah kabel-kabel listrik yang tak kalah semrawut. Ada bekas layangan di kabel dengan benang pendek yang menjuntai berkibaran. Angin membawa aroma selokan yang tak sedap, berpusaran mampir di dapur. Ganti aroma ikan asin sisa kemarin yang digoreng lagi.

Makan, kami ingin sekedar makan. Protein karbohidrat vitamin lemak nabati hewani apa itu? Hanya makan cukup sekedar makan. Susu kopi teh, ah, air putih yang bersih di gelas kotor kami pun cukup.

Penumpang kereta belum lagi bangun dari tidurnya ketika satu per satu dari mereka naik. Botol air mineral yang sudah kosong disambar. Koran bekas alas tidur yang lusuh dikumpulkan. Sebuah sapu menjadi senjata untuk membersihkan kolong kursi tanpa diminta. Akhirnya tanpa diminta pula tangannya menengadah di depan dada mengharapkan receh.

Tak lupa, malamnya ketika kantuk beranjak datang menghampiri mengajak ke alam mimpi suara-suara itu juga terdengar. “Lanting-lanting! Aqua-aqua! Kopi, susu, jahe anget! Popmi-popmi!” Bercampur-campur bersatu diaduk dalam kereta yang pengap itu.

Mereka menumpang dari stasiun ke stasiun. Menjajakan makanan ringan, air mineral bahkan barang kerajinan dari batok kelapa di atas gerbong kereta. Beberapa penjaja buku kumpulan doa juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam hingar bingar malam beranjak pagi.

Istirahat tak pernah menjadi beban pikiran. Asal bisa berbaring di peron stasiun pada bangku-bangkunya. Di lantai beralaskan koran atau kardus bekas, berselimut sarung dekil. Mereka bau, stasiun bau, toilet bau. Bau mereka adalah perjuangan untuk makan, demi pakaian dan tempat berteduh dari hujan.

Mereka yang hidup dari sisa-sisa, beralaskan bumi dan beratapkan langit. Mereka kaya usaha namun miskin hasil. Mereka yang perutnya berdendang nyaring, melapar minta makan. Tubuhnya menggigil sering dan kedinginan minta pakaian. Bila hujan datang terik meradang, diidamkan sebuah hunian yang menjadi tuntutan. Mereka di sana tidak jauh, dekat dengan kita.

Kesempatan tidaklah sama pada masing-masing kepala. Seseorang masih bisa melihat matahari hari ini, esok hari siapa yang tahu? Kelak biarlah menjadi kelak, bahkan mungkin berani bermimpi akan lama dipikir dulu. Sebuah masa yang tidak panjang, seumur perut yang minta diisi itulah yang dipikirkan.

asal gambar