Ombak, Pantai dan Angin

Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.

Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu Continue reading “Ombak, Pantai dan Angin”

Senyum Janda Mardi

Pada batas sebuah negeri, di dusun yang sepi. Janda Mardi hidup bersama dengan dua putrinya. Bukanlah hal yang mudah menjadi ayah sekaligus ibu.

Marni, si sulung pintar bersolek. Betah sekali bila sudah berada di depan cermin. Lain lagi adiknya, Marti. Yang satu ini, begitu pintar bergaul, banyak teman dimiliki. Akhirnya, tinggallah Janda Mardi bersendiri, malam-malam sepi. Terkadang, menangis tanpa suara di biliknya.

Benaknya melayang pada Marni yang siang tadi meminta uang untuk bedak dan gincu. Pikirannya berlarian mengingat si Marti yang begini larut masih juga belum pulang. Continue reading “Senyum Janda Mardi”

Ketika Menunggu

Sebuah sms, cukup sebuah

Jelaskan semua

Hilanglah resah juga gundah

Sesukar apa?

                Khawatir bila menunggu

                Debar berdentum-dentum

                Tak mengerti saat menunggu

                Pada salah, alpa yang terangkum

Ini penantian

Sebuah kemestian

Sampai kapan

Haruskah kutelepon?


Sebuah sms, cukup sebuah

Jelaskan semua

Hilanglah resah juga gundah

Sesukar apa?

                Khawatir bila menunggu

                Debar berdentum-dentum

                Tak mengerti saat menunggu

                Pada salah, alpa yang terangkum

Ini penantian

Sebuah kemestian

Sampai kapan

Haruskah kutelepon?


Di Simpang Jalan

Pada sebuah titik kita sampai

Di simpang jalan

Pada satu titimangsa kita capai

Di batas penantian

  Keputusan digapai

  Bukan jelmaan mimpi

  Hubungan dihargai

  Bukan sebuah pasti

Maka bila tanya

Tak selalu bertemu jawab

Saat untaian asa

Tak mesti bertukar tangkap

  Kita berpisah

  Sejenak termangu

  Tak mesti menunggu

  Larutkan resah


Pada sebuah titik kita sampai

Di simpang jalan

Pada satu titimangsa kita capai

Di batas penantian

  Keputusan digapai

  Bukan jelmaan mimpi

  Hubungan dihargai

  Bukan sebuah pasti

Maka bila tanya

Tak selalu bertemu jawab

Saat untaian asa

Tak mesti bertukar tangkap

  Kita berpisah

  Sejenak termangu

  Tak mesti menunggu

  Larutkan resah


Cerita: Suara, Kata, Ara

McDonalds Atrium Senen 10.50 WIB. Udara dikondisikan dengan menggunakan mesin pengatur. Lengas di luar pun tak kuasa menerobos dinding kaca. Minum es krim rasa coklat bercampur susu, pada kemasannya tertulis McFlurry.

Dua gelas plastik McFlurry di atas meja mulai mengembun. Butiran air menempel di luar gelas terasa dingin. Dan es krim, tidak lagi memadat. Perlahan mencair, terasa lebih lembut, meleleh di lidah.

Bila diam adalah batu, maka kata-kata mencairkan kebekuan itu.  Continue reading “Cerita: Suara, Kata, Ara”

Bulan, Terang Samar

Kemarin bulan tersenyum
Ada dua planet yang menjadi mata
Entah kenapa, bulan sabit pun membentuk senyum
Aku pun tertawa

Malam ini awan menutupnya
Meski
Sekilas aku masih bisa melihatnya
Walau
Kadang samar kadang tersembunyi

Kemarin bulan tersenyum
Ada dua planet yang menjadi mata
Entah kenapa, bulan sabit pun membentuk senyum
Aku pun tertawa

Malam ini awan menutupnya
Meski
Sekilas aku masih bisa melihatnya
Walau Continue reading “Bulan, Terang Samar”

Anak Ke Lima

“Ohm, terima kasih, ya. Di antara ke lima anak Ibu, Ohm, yang paling mengerti Ibu.”

Begitulah pesan singkat yang diterima hape saya dari putri Ibu kos yang tinggal nun di Bali sana. Putra dan putri Ibu kos memang sebenarnya hanya empat orang saja. Namun, setelah saya tinggal di sana hampir dua tahun lamanya akhirnya pengakuan itu tiba juga.

Bukan kos-kosan, saya harus mengakui kos saya di Klaten itu begitu. Bagaimana tidak? Bila di sana saya tinggal sendiri tanpa memiliki teman kos. Sehari-hari saya hanya bergaul dengan Ibu dan Bapak yang pensiunan dan lebih sering di rumah dari pada bepergian. Tidak sepanjang hari memang saya berada di kosan. Hanya bila senja menjelang sampai dengan mentari beranjak naik saya akan berkeliaran dari kamar ke kamar mandi, kembali ke kamar.

Putra dan putri yang berjumlah empat orang itu, semuanya telah berkeluarga dan masing-masing menempati rumahnya sendiri. Sebagai anak kos tunggal di situ, saya benar-benar memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Tidak banyak sebenarnya fasilitas yang tersedia karena memang keluarga Ibu dan Bapak sungguh bersahaja.

Meski begitu, segelas teh hangat di kala pagi dan bila malam menjelang leluasa bisa saya bikin. Air panas selalu tersedia di dalam termos. Tak perlu permisi saya mengambilnya. Hal yang sama juga saya lakukan bila ingin meminum air putih penawar haus. Semua tersaji dalam teko-teko plastik berukuran besar yang selalu siap di dapur.

Di masa-masa awal, tentu saja canggung itu ada. Selalu berhati-hati dalam bertindak dan sebisa mungkin tidak menimbulkan masalah. Tetapi, barangkali usia telah mendewasakan Bapak dan Ibu berdua. Beliau tidak pernah mengekang saya; tahu betul apa kemauan anak muda. Akhirnya segan muncul di dada dan sebisa mungkin menjaga kepercayaan yang diberikan.

Tidak banyak yang saya haturkan untuk beliau berdua kecuali beberapa bingkisan kecil dari rumah di kampung titipan Ibu. Terkadang, bila sehabis rapat masih ada hidangan dalam kotak tersisa, saya akan membawanya pulang, sekadar berbagi, tetapi akhirnya masuk pula ke perut saya.

Bila bulan puasa tiba, begitu sukar mencari makanan untuk sahur di kota kecil seperti Klaten. Akhirnya, Ibu pun harus saya bikin repot dengan menyiapkan segala hidangan alakadarnya. Tentu tidak mudah mengingat selera saya yang agak aneh dan terbiasa dengan warung makan. Berhati-hati Ibu akan menanyakan, “Mas, nanti malam menunya apa, ya?” Tanpa dosa saya akan berkata, “Terserah Ibu mawon, saya manut.”

Menjengkelkan, bukan? Tidak semua makanan bisa saya makan. Bukannya pilih-pilih atau tidak doyan, tetapi sungguh saya tidak suka. Sudah begitu, saat ditanya menu saya bingung bagaimana menjawabnya. Kurang ajarkah, saya? Ya, begitu barangkali jawaban yang pas.

Dua kali lebaran saya lewatkan di sana. Memang pada saat hari H dan beberapa hari setelahnya saya berada di rumah di kampung. Namun, bila hari kerja akan dimulai, saya akan kembali ke kosan diawali dengan sungkem kepada Bapak dan Ibu kos. Ah iya, sebelum pulang kampung menjelang hari raya, biasanya saya akan sibuk menyiapkan bingkisan untuk Bapak kos. Sebenarnya ingin juga memberikan sesuatu kepada Ibu, namun terus terang selalu kesulitan memilih apa yang pas. Bila baju, saya tidak tahu ukurannya. Mukena, sajadah sudah sangat banyak di almari dekat tempat sholat itu. Adapun bingkisan untuk Bapak, mudah sekali karena tubuh beliau hampir sama dengan saya, jadi tidak terlalu menyulitkan saat penentuan ukuran.

Lebaran kemarin saya pun mencoba untuk menghaturkan sekadar bingkisan kepada Ibu. Saya teringat adik yang selalu mendapat bingkisan dari sekolah tempatnya mengajar. Rupa-rupa bingkisan itu: minyak goreng, sirup, sabun mandi dan cuci, gula, teh dan beberapa barang kebutuhan lainnya. Ide itu, mentah-mentah saya tiru, belanjalah saya di supermarket dan membeli semua kebutuhan itu.

Sesampainya di kos, saya haturkan begitu saja tanpa membungkusnya dengan bungkusan parcel sekadar agar nampak lebih indah. Ibu pun mengucapkan terima kasih sekadarnya, tak berlebihan dan tak lupa tersenyum.

Hal yang saya tidak pernah tahu adalah: beliau menceritakan apa yang saya lakukan kepada mbak kos –putri satu-satunya Ibu—yang tinggal di Bali itu. Cerita Ibu tersebut, berbuah pesan singkat di awal tulisan ini. Aneh… saya tidak pernah menyangka akan menerima pesan seperti itu. Bagi saya, apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa dan tidak pantas disebut, apalagi dibanggakan.

Saat membaca pesan tersebut ada perasaan haru yang menyeruak perlahan-lahan. Pada kata ‘di antara ke lima anak Ibu, Ohm yang paling mengerti Ibu’. Saat itu, saya merasa dianggap sebagai saudara. Ke lima, justru memberikan arti melengkapi yang empat.

Perasaan dianggap, diuwongke –dimanusiakan—ternyata memberi nilai yang penting. Di sana kemudian saya merasa bukan hanya sebagai anak kos. Meski pengakuan dari Mbak kos itu tidak diikuti oleh pengakuan secara langsung dari Mas-mas yang lain, pun Ibu dan Bapak namun itu saja sudah cukup. Menjadi bagian dari sebuah keluarga di sana begitu membanggakan sekaligus mengharukan untuk saya pribadi. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupa. Bahwa mengakui, menganggap penting, menghargai kehadiran masih dibutuhkan.

Selalu, di tempat yang asing; jauh dari orang-orang terdekat dan terkasih mudah sekali membuat; mengundang haru. Penerimaan dengan tangan dan hati terbuka, meski tentu saja melalui proses yang berliku akan membuahkan senyum. Akhirnya, jangan heran bila sebuah pesan singkat bisa mendatangkan cairan bening; tipis di mata, isak tertahan dan helaan nafas panjang. Saat itu, mungkin ketika sisi-sisi paling lembut di kedalaman dada sana terusik.

Selamat menikmati hari-hari di sana Bapak dan Ibu, mungkin sekarang lebih tenang karena tiada saya yang tiap malam pulang terlambat membuka rolling dorr. Selamat beribadah dengan tenang tanpa saya ganggu dengan suara-suara dari televisi atau winamp yang dimainkan. Berdua saja di hari tua, semoga saya juga bisa mencapai kebahagiaan di usia senja seperti apa yang sehari-hari saya saksikan dari Anda berdua. Terima kasih untuk semuanya, termasuk pesan-pesan yang semoga tak lekang dimakan waktu.

Di Balik Bayang

Akheela menatap tembok di taman belakang rumahnya dengan penuh perhatian. Di sana, pada sebuah sudutnya terdapat bayangan tembok lain dari rumah tetangga. Sudut itu menjadi gelap; sedikit lembab dan mungkin berjamur yang bahkan mampu membuat cat di bagian itu terkelupas.

Bayangan itu sepertinya akrab dengan Ila, begitu biasa gadis kecil itu dipanggil. Memang, sebenarnya Ila adalah gadis di balik bayang-bayang. Dan ini kisahnya:

Hujan bukan lagi gerimis, lebat boleh dibilang begitu. Dua gadis kecil itu masih juga bermain dengan penuh tawa senang. Mereka tak sadar bahwa di balik pintu dapur yang terbuka seorang Ibu mengawasi dengan cemas.

“Ila, cepat ke mari, nak. Hujan, nanti kamu sakit.”

“Bentar, ma, Ila masih ingin bermain bersama kakak.”

Tak sabar, diambillah sebuah payung oleh Ibu itu. Dengan menarik daster biru mudanya sampai ke lutut, dihampirinya kedua gadis kecil itu.

“Ayo, Ila, nanti kamu terkena flu, sudah cepat atau nanti mama adukan ke papa.”

“Tetapi, ma…. “

Tak kuasa Ila untuk sekedar menolak perintah itu. Sebelah tangannya digandeng oleh mamanya dan diseret ke kamar mandi, kemudian dimandikan dengan air hangat. Adapun kakaknya, masih juga belum beranjak dari tengah taman bermain lumpur; bermandikan air hujan, basah.

Ila telah hangat kini. Minyak kayu putih dioleskan ke sekujur tubuhnya; sweater tebal membungkus erat tubuh bagian atasnya. Adapun pada kakinya, sebuah selimut kembang-kembang melindungi dengan sempurna. Dia duduk di ranjangnya, sesekali bersin dan melalui jendela dia bisa melihat kakaknya masih juga bermain hujan. Iri, entah kenapa rasa iri itu menyeruak begitu perlahan.

Sesekali bersin terdengar dari mulut Ila; hidungnya pun mendadak mampet dan pusing tak lupa hinggap di kepalanya. Begitu berat. Masih ditambah dengan iri yang mengusik-usik hatinya. Tak salah kiranya bila menyebut Ila begitu tersiksa dengan semua keadaan itu.

“Kamu ngga papa, Ila?”

Sebuah suara berat dan berwibawa: ayah Ila. Beliau masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tegap, tenang. Semakin mendekati ranjang di mana Ila terduduk pucat. Sebelah tangannya terangsur ke pelipis Ila. Disibakkan poninya dengan jemari tangan yang kukuh itu; menggunakan punggung tangannya papa Ila mencoba mengukur, mengira-ira suhu tubuh Ila.

“Kamu demam, nak. Itulah akibatnya bila berhujan-hujanan. Papa kan sudah selalu bilang.”

Ila masih terdiam seribu bahasa. Dilayangkan pandangannya kembali ke kakaknya yang masih bermain hujan. Tangan ayahnya sudah tidak berada di pelipisnya, tetapi rasanya masih ada di sana. Wibawanya begitu kuat dan tak mungkin bisa dilawan olehnya yang mungil.

Dunia bagi Ila, menyempit. Dia hidup di bawah ketiak ayah dan ibunya. Hari-harinya adalah menelusuri jejak kakaknya, di balik bayangannya. Meski tak pernah bisa, tak juga bisa dia meniru, mendapatkan apa yang kakaknya dapatkan.

Ila begitu murung bila mengingat semua itu. kebebasannya terpasung di bawah kendali ayah dan ibunya. Kebebasan yang dengan sangat bertolak belakang bisa didapatkan kakaknya dengan mudah.

“Papa, kenapa Ila tak boleh bermain hujan seperti kakak?”

“Karena kamu mudah sakit, Ila, begitu mudah sakit.”

“Tetapi, Pa….”

“Sudahlah, Ila, jangan membantah terus, kasihan mama bila harus repot merawatmu.”

Bila sudah begitu, Ila kemudian terdiam. Tak ada lagi kata yang terucap. Semua yang ingin keluar dari mulutnya tertelan kembali. Begitu banyak yang ingin diucapkannya, tetapi kemudian hanya helaan nafas yang tertahan untuk menyembunyikan sedu sedan.

Menurut Ila, apa yang dilakukan oleh ayah ibunya adalah tidak adil. Kakaknya bebas melakukan segala hal. Tetapi Ila? Selalu dan terus diawasi, dipantau di bawah lirikan tajam mata ayah dan ibunya. Bukan kondisi yang menyenangkan, tak juga bisa dikatakan membahagiakan. Meski di sudut hatinya pun dia tahu, orang tuanya melakukan itu semua demi dirinya jua. Tubuhnya yang rapuh, rentan terhadap penyakit.

Apakah kemudian Ila bersalah menjadi rapuh? Bila ternyata kedua orang tuanya tidak pernah memberikan sebuah ruang untuknya. Ruang di mana dia bisa belajar menjadi kuat, tidak rentan; kokoh tak mudah patah menajadi serpihan.

Tak bisa dikatakan salah pula kedua orang tuanya. Rasa kasih dan sayang telah mendorong beliau berdua untuk menjaga Ila lebih dari seharusnya. Siapa tahu, mereka ingin agar anaknya tak mudah terserang flu dan demam.

Jembatan pengertian di antara mereka mungkin tidak pernah sempurna dibuat. Ada sebuah jeda seperti elipsis yang masing-masing pihak mesti mengisinya dengan pengertiannya sendiri-sendiri. Sebuah dunia baru terbentuk di dalam diri Ila.

Dunianya sendiri, begitu Ila akan menyebut bagian dari dirinya yang tak akan dibagi kepada siapapun. Entah ada apa di sana hanya dia yang tahu. Dunia di mana dia akan menari, bernyanyi dan bercerita. Jangan mencoba mengganggunya, atau mencoba melihat dunianya yang satu ini. Karena dia menari, bernyanyi dan bercerita di balik bayang.

Hanya, barangkali satu saat matahari akan bergeser dan membuka wilayah gelap itu, seperti apa yang Ila saksikan kini di tembok belakang rumahnya. Aih, di sana ternyata banyak semut berbaris rapi, ada pula sepasang kupu-kupu yang hinggap di bunga. Dan bunga itu, begitu cantik, secantik Ila yang entah kenapa tersenyum.

Bilakah?

asal gambar