Ombak, Pantai dan Angin

Jam dua malam di keretaapi Senja Utama Semarang. Hampir semua penumpang terkulai di kursinya masing-masing. Saya teringat kemarin, ketika dengkur seperti berparade, bergantian satu penumpang dengan yang lain. Tetapi malam ini berbeda, tak lagi terdengar dengkur, tak juga derit roda-roda kereta beradu dengan besi rel.

Keretaapi memang sedang berhenti, begitu sering kereta ini berhenti. Tak hanya di stasiun berhentinya. Rasa-rasanya seperti sedang mengulur jarak; memperlambat waktu kedatangan di stasiun tujuan. Saling menunggu untuk lewat di rel yang sama, akibatnya sebuah kereta harus menunggu Continue reading

Senyum Janda Mardi

Pada batas sebuah negeri, di dusun yang sepi. Janda Mardi hidup bersama dengan dua putrinya. Bukanlah hal yang mudah menjadi ayah sekaligus ibu.

Marni, si sulung pintar bersolek. Betah sekali bila sudah berada di depan cermin. Lain lagi adiknya, Marti. Yang satu ini, begitu pintar bergaul, banyak teman dimiliki. Akhirnya, tinggallah Janda Mardi bersendiri, malam-malam sepi. Terkadang, menangis tanpa suara di biliknya.

Benaknya melayang pada Marni yang siang tadi meminta uang untuk bedak dan gincu. Pikirannya berlarian mengingat si Marti yang begini larut masih juga belum pulang. Continue reading