Our Seeds

Capture_twit

Someday….
Who will plant paddy?
When you have grown….
Will it green in this soil?

Those sentences loosely translate from the second song performed by ‘Akar Bambu’ in the lecture by Dr. Vandana Shiva at Universitas Indonesia on Monday (18/08). The Akar Bambu trio on this occasion sang three songs; about sharing, the last farmer, and the last seed. The lead vocalist of the group asked the audience during the break between the songs, ‘What if there was only one last seed left in the world?’

This lecture was titled ‘Our seeds, our future: strengthening Indonesia food sovereignty’. To open her talk, Dr. Shiva mentioned the link between seed freedom and our freedom. Then she followed with a brief history of seeds, and discussed how seeds as a resource have caused conflict and even violence in agriculture.

Violence in agriculture means that its tools and technology came from the war industry. In this case, fertiliser, pesticides, and other chemical materials for plants are the same chemicals have been used in bomb production.

Moreover, Dr. Shiva revealed the hidden agenda behind the seed industry. The industry has designed dependency for farmers through its monopoly on seed distribution. It promotes ‘super seeds’ and endorse a monoculture system that reduces biodiversity. At the same time, this industry also generates alarm for farmers by seed scarcity.

In addition, Dr. Shiva also blamed governments and world organisations that play a significant role through theirs laws concerning seed issues. She listed the various actions of such organisations which, for example, arrest farmers who gather and save their own seeds.

In the last part of her presentation, Dr. Shiva spoke mostly about biodiversity. She said that biodiversity was the answer of food sufficiency and to adapt towards climate change.

She also suggested that human beings should keep seeds on the hand in order to fulfill the food demands of the population. Keeping seeds in your hand, is the most significant key for peace on earth.

Related links:

Dr. Vandana Shiva profile

Navdanya Movement

===
Versi Bahasa Indonesia

Suatu hari nanti….
Siapa yang akan menanam padi?
Manakala kamu telah dewasa….
Akankah tanah ini tetap hijau?

Bait tersebut dipinjam dari lagu kedua yang dinyanyikan oleh ‘Akar Bambu’ dalam kuliah umum oleh Dr. Vandana Shiva di Universitas Indonesia pada Senin (18/08). Trio Akar Bambu pada kesempatan tersebut menyanyikan tiga buah lagu yang bercerita tentang saling berbagi, petani terakhir dan benih terakhir. Vokalis Trio Bambu pada jeda antar lagu menanyakan kepada peserta seminar, “Bagaimana jika hanya tersisa satu benih terakhir di dunia ini?”

Kuliah umum ini berjudul ‘Benih kita, Masa Depan Kita: memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.’ Dalam pembukaannya, Dr. Shiva menyampaikan, bahwa ada hubungan antara kemerdekaan benih dan kemerdekaan kita. Kemudian beliau melanjutkan dengan sejarah singkat benih, bagaimana benih sebagai satu sumber daya memicu konlik dan bahkan tindakan kekerasan dalam bidang pertanian.

Kekerasan dalam bidang pertanian berarti, pertanian yang peralatan dan teknologi yang digunakan berasal dari industri untuk peperangan. Dalam hal ini, pupuk, pestisida dan berbagai produk kimia lain untuk tanaman berasal dari material yang sama dengan material yang digunakan pada saat perang, seperti halnya produksi bom.

Lebih lanjut, Dr. Shiva mengungkapkan agenda tersembunyi di belakang industri benih. Sebuah bidang industri yang didesain untuk menciptakan ketergantungan para petani melalui strategi monopoli keanekaragaman benih. Industri ini mempromosikan benih super dan sistem monokultur yang menghapus keanekaragaman. Pada saat yang sama, industri benih juga menciptakan kekhawatiran para petani dengan melontarkan isu mengenai kelangkaan benih.

Sebagai informasi tambahan, Dr. Shiva juga menyalahkan pemerintah dan organisasi dunia yang memainkan peran melalui hukum dan aktivitas mereka terkait dengan isu benih. Beliau membuat satu daftar pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah atau organisasi lain yang menahan seorang petani karena tengah mengumpulkan dan menjaga benih mereka sendiri.

Pada bagian akhir paparannya, Dr. Shiva lebih berfokus pada keanekaragaman. Beliau percaya bahwa keanekaragaman adalah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Dr. Shiva juga menyarankan, bahwa seseorang harus menyimpan benih dalam rangka untuk untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia. Benih yang tersimpan ini adalah kunci dalam usaha menciptakan perdamaian dunia.

merangkum yang terserak, memungut yang tercecer