Mengenal Tokoh: Vandana Shiva

Dr. Vandana Shiva

Semua berawal dari sebuah kelas yang saya ikuti beberapa bulan lalu. Salah satu kegiatan dalam kelas tersebut adalah menonton video di youtube. Sungguh menyenangkan, bukan?

Kebetulan, guru saya adalah seorang anarchyst sekaligus pecinta lingkungan. Beliau memiliki tokoh idola, yaitu Dr. Vandana Shiva. Siapa beliau ini, Anda dapat membaca profilnya di sini.

Dalam salah satu pidatonya, beliau menjelaskan tentang pentingnya benih. Betapa benih sudah dikuasai oleh perusahaan raksasa yang kemudian memonopoli jual belinya. Petani di sisi lain menjadi obyek penderita karena tidak diperbolehkan menyimpan benih. Mereka harus membeli benih dari perusahaan tersebut.

Dunia yang menghadapi persoalan maha besar, yairu lonjakan populasi tentu pada akhirnya membutuhkan banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan makan warga dunia.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan modifikasi genetika untuk menciptakan benih unggul. Sebagai contoh pada varietas padi. Namun, penggunaannya bukan absen dari persoalan.

Penggunaan bibit unggul tanpa didukung produk lain seperti pupuk buatan tak pernah memberikan hasil yang maksimal. Semenfara itu, pupuk biatan seperti pestisida sangat berbahaya dan merusak lingkungan. Limbahnya mencemari sungai, merusak kesuburan tanah, dan memberikan pengaruh buruk lainnya.

Dr. Shiva berjuang untuk melawan dominasi dan monopoli dari para raksasa tersebut. Dengan gerakan yang diberi nama Navdanya (9 biji) ia mulai mengumpulkan benih dari para petani lokal. Disimpannya benih tersebut di dalam bank benih di ashram-nya untuk kemudian ditanam oleh para petani.

Awal Gerakan
Sekitar medio 1980-an terjadi bunuh diri besar-besaran di India. Para petani yang tak mampu membayar hutang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Sebelum itu terjadi, kekeringan besar melanda India. Benih yang biasa ditanam oleh para petani tak mampu tumbuh di lahan yang kurang air. Mereka pun kemudian tertarik untuk menanam benih dari perusahaan yang tahan hidup hanya dengan sedikit air. Tentu saja benih itu harus dilengkapi dengan berbagai pupuk dan bahan lain yang juga disediakan oleh perusahaan itu. Petani memperoleh semua itu dengan jalan hutang, di akhir periode tersebut banyak petani yang terlilit hutang dan kebanyakan tak sanggup membayar.

Dampak lanjutan dari penggunaan benih dan pupuk dari perusahaan besar adalah kerusakan lahan pertanian yang kemudian menjadi bergantung pada berbagai obat-obatan kimia. Sistem monokultur memang memberikan hasil produk yang tinggi, namun hilangnya kesuburan tanah juga menjadi ancaman yang sangat mengerikan.

Ide Gerakan
Bersama dengan para petani dikumpulkan bibit-bibit tanaman yang ada. Disimpannya benih tersebut sembari ditanam secara organik.

Dr. Shiva percaya, sebidang lahan yang ditanam berbagai macam tanaman akan memberikan keuntungan yang jauh lebih banyak daripada hanya satu jenis tanaman.

Sebagai ilustrasi hal tersebut, sekian kwintal padi dari satu hektar tanaman berbanding dengan beberapa kilo padi dan aneka rupa hasil tanaman dari lahan dengan luas yang sama. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan baik itu bagi petani maupun bagi tanah. Aneka rupa tanaman yang ditanam pada sebidang lahan akan menjaga kesuburan tanah itu sendiri.

Pertumbuhan Ekonomi
Selain isu mengenai benih, Dr. Shiva juga menyoroti pertumbuhan semu ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang biasanya diukur dari hasil produksi tanpa memerhatikan kerusakan yang ditimbulkannya. Sebagai contoh adalah dari komoditi pertanian yang hanya memperhitungkan hasil dan melupakan kerusakan tanah, sumber mata air, atau dampaknya pada ekosistem. Semua hal itu tak pernah dihitung saat mendefinisikan pertumbuhan ekonomi.

Selain dari produk pertanian, pertumbuhan ekonomi juga menghitung hasil tambang, utamanya bahan bakar fosil. Pertumbuhan ekonomi dari sumber daya alam tak dapat diperbarui akan menunjukkan pola parabola terbalik. Satu ketika akan mencapai puncak dan apabila sumber daya alam tersebut habis, maka akan menunjukkan kurva yang menurun, bahkan satu saat nanti akan habis.

Dunia pada masa yang akan datang tidak memerlukan minyak dan gas dan batu bara murah. Dunia lebih membutuhkan kincir angin, panel-panel surya, turbin pembangkit listrik dengan tenaga air atau gelombang yang kendati mahal untuk pengadaannya, namun berlimpah ketersediaannya.

Tanah yang Suci
Dr. Shiva menganggap semua hal berhubungan. Seperti halnya film Avatar, dari warga pribumi, pohon, burung, binatang lain saling berhubungan. Tak bisa satu makhluk hidup sendiri tanpa berhubungan dengan makhluk lain.

Di atas semua itu, tanah menjadi penghubungnya. Sebuah entitas yang suci karena dari sanalah awal rantai makanan tersusun.

Manakala pohon tumbuh, binatang memakannya, kemudian manusia menikmati keduanya, semua berawal dari tanah.

“Tanah adalah sumber kehidupan.” Kata Dr. Shiva.

Oleh sebab itu, maka memperlakukan tanah dengan baik menjadi satu keharusan. Mengubah tanah menjadi lahan permukiman atau pertanian yang dilakukan secara sembrono adalah mengundang hadirnya bencana.

Beberapa akibat dari pengelolaan tanah yang sembrono di antaranya adalah kelangkaan pangan karena tanah rusak. Selain itu juga intensitas banjir dan tanah longsor yang terjadi karena tanah berubah fungsi dari daerah resapan menjadi tempat tinggal atau hunian.

Para Musuh
Dalam melakukan gerakannya, Dr. Shiva tak lepas dari onak dan duri yang menghadang. Sebut saja, dan tentunya mereka itu adalah para industrialis penganjur GMO, perusahaan tambang, pemilik modal, juga ilmuwan yang menolak isu-isu yang diangkat oleh Dr. Shiva.

Semakin banyak yang menantang gerakan yang diusung oleh beliau, semakin banyak pula yang ambil bagian mendukungnya.

Mengingat gerakan Dr. Shiva menyangkut hajat hidup orang banyak dan terutama keberlangsungan kehidupan dari tumbuhan, hewan, hingga manusia, maka sudah sepantasnya apabila blog semenjana ini pun turut serta menyebarluaskan pemikiran beliau.

Lini Masa Rezeki

Dalam hidup, tentu banyak sekali rezeki yang saya terima. Setiap detik, setiap helaan napas, kedipan mata, bunyi yang terdengar, aroma yang tercium, rasa yang terkecap adalah di antaranya yang terus diterima hingga terkadang lupa disyukuri.

Namun, beberapa rezeki terasa istimewa karena jarangnya dia datang oleh sebab maknanya, keterlibatan orang-orang tercinta, hingga pengaruhnya yang tak kecil untuk keberlanjutan episode hidup saya.

Beberapa rezeki yang boleh dicatat itu adalah:

2010
Bersamaan dengan perayaan Hari Raya Natal, saya melangsungkan resepsi pernikahan. Malam sebelumnya benar-benar menjadi malam kudus bagi saya karena saya mengucapkan ijab dan qabul dihadapan penghulu dan para saksi.

Saat itu seseorang hadir menjadi pendamping setiap langkah, tempat berbagi suka dan duka, tumpuan ragu dan cita-cita, penimbang keputusan nan terpercaya.

2013
Sudah dua tahun biduk rumah tangga berlayar mengarungi samudera kehidupan. Selama itu pula kami menanti-nanti hadirnya sang buah hati.

Ada titik terang di akhir 2012 manakala tamu bulanan istri datang terlambat. Sayang seribu sayang, hanya bertahan delapan minggu calon jabang bayi itu pun tak bertahan. Dia harus digugurkan dari kandungan karena tak berkembang pada akhir Januari 2013.

2014
Satu demi satu pengumuman yang dinanti datang membawa kabar gembira.

Saya lolos dan menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah di negeri tetangga. Istri pun diterima bekerja di tempat yang sudah diharap cukup lama.

2015
Hadirnya anggota keluarga baru, dua putri, si kembar yang kami beri nama Bening dan Embun. Semoga mereka bisa menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga. Aamiin.

Begitulah, seperti kata seorang pujangga, ada misteri dalam setiap tikungan kehidupan. Entah suka atau duka. Kita manusia hanya tinggal menjalaninya saja. Diam-diam kita belajar atau diajari agar tak terlampau suka manakala kegembiraan datang dan tak terlalu berduka ketika kesedihan menghampiri.

Pada akhirnya saya kira, kita mestinya menjadi biasa-biasa saja dan bersyukur untuk semua.

Davos dan Sebuah Ingatan Masa Kecil

Terkadang kita mengingat dengan cara yang aneh.

Misalnya saja saat saya melihat gambar permen Davos di twitter, ingatan saya mendadak terbang ke zaman sekolah dasar dulu.

Adalah seorang guru matematika, Pak Paiman namanya. Tak banyak rumus yang saya ingat dari beliau. Saya ingat tentang mencongak sebagai tiket pulang, siapa yang bisa menjawab soal mencongaknya paling cepat, dia akan pulang lebih dulu. Galaknya beliau saat ada yang lupa tidak mengerjakan pe er adalah beberapa hal yang masih diingat, bahkan perasaan gemetar saat ditanya mengenai pe er itu juga masih terasa.

Namun, permen Davos-lah yang seakan-akan menjadi trade mark-nya. Beliau hampir selalu mengulum permen itu, bahkan ketika mengajar.

Seorang kakak kelas bercerita, saat di tengah pelajaran, beliau mengulum permen. Tak lama, seorang murid sukses membuatnya marah. Pak Paiman pun membentak murid tersebut dan tanpa sadar permennya meloncat keluar dari mulutnya.

Saya kurang tahu apa yang terjadi kemudian pada murid penerima semburan permen tersebut.