Cerita di Transjakarta

penumpang_transjakartaPagi menjelang, bus tak selalu penuh. Bila beruntung, kau pun bisa memperoleh tempat duduk.

Baik juga bila berdiri, karena masih mungkin bagimu mengubah-ubah posisi berdiri. Dan mereka yang duduk, seperti terkena kutukan dari Dewa Kantuk.

Kantuk itu datang menyapa mereka yang duduk. Si Bapak dengan setelan necis dan rambut klimis pun kena. Si Mba dengan jilbab aduhai, atau yang berperona pipi merah, juga yang rambutnya melambai, semua terkena sapaan sang kantuk.

Percayalah, kawan, secantik atau seganteng apa pun kau saat berangkat tadi, bahkan mungkin juga wangi, namun kalau kau tidur dengan mukut terbuka, ganteng dan cantikmu itu pun mengalami penurunan 70 persen. Sayang sekali, bukan?

Saranku sederhana, kenakan masker dan kau pun aman. Kami yang berdiri tak perlu menjadi saksi mulutmu yang menganga. Namun, bila kau piawai mengatur posisi tidur, aturlah agar tidurmu itu tidur yang sopan, yang menunduk bukan menengadah. Bisakah, kau?

Sore datang, bus pun lebih penuh dengan manusia, lengkap dengan baunya, komplit dengan keringatnya. Perpaduan apik antara antri lama, kemacetan dan jumlah armada bus yang sedikit menjadi pemicu bau dan keringat itu. Habis, mau bagaimana lagi?

Saat senja datang, semua orang ingin pulang. Bagai burung yang sudah rindu sarang setelah seharian berjalan melenggang.

Di saat seperti ini emosi mudah menyeruak. Sikut pun digunakan agar jalan masuk ke bus terkuak. Tak jadi soal bila yang kena sikut itu anak kecil atau orang tua yang lebih layak. Semua bersicepat untuk mendapatkan satu tempat duduk, atau sekadar tubuhnya bisa masuk.

Penumpang pun ada yang berdiri atau duduk terkantuk. Ada yang tidur betul, ada yang pura-pura tertidur. Biar saja andaikata ada wanita yang berdiri. Ibu-ibu pun terkadang harus bersusah payah menembus kepadatan penumpang yang berdiri dekat pintu masuk. Mereka berjinjit, menggapai-gapai pegangan yang letaknya terlampau tinggi.

Halte yang dituju pun menjelang, penumpang yang akan turun bergeser mendekat ke pintu. Satpam sibuk mengumumkan halte apa yang ada di depan, pilihan transit, awas copet, dan peringatan agar hati-hati melangkah.

Penumpang kemudian turun, melepaskan penat, meluruskan tubuh, menggerak-gerakkan lengan dan kembali berjalan. Sampai besok, monster besi, kotak, pemangsa manusia.

Sumber gambar

Perjalanan di Sebuah Siang

buruh_maydaySelasa, 1 Mei 2013, di Jln. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat
Saya berjalan bermandikan sinar mentari pukul sebelas
Dari arah selatan menuju ke utara
Menjelang patung kuda, serombongan pendemo sedang mengatur barisan
Di trotoar ada yang tampaknya baru sampai, sedang beristirahat, tak banyak
Saya terus berjalan menyeberang, melintasi patung kuda, berhenti di depan graha indosat
Ada tiga remaja yang seperti tergesa, satu di antaranya membawa kamera
Di situ, saya temukan penjual bakso, ketoprak, teh botol, dan es kelapa berderet-deret
Semangkuk bakso saya pesan, ”Ngga pakai itu ya, Bang…,” kata saya sambil menunjuk sesuatu entah apa namanya di dekat butiran bakso
Kemudian saya pun mulai melahap sesuap demi sesuap
Di samping saya seorang Bapak menghisap rokoknya, terlihat puas, mungkin dia baru selesai menghabiskan semangkuk bakso.
Kami bicara, saling bercerita, melihat jalanan yang lengang dan kekhawatiran tak bisa pulang
Beliau pun pergi….
Seorang lelaki lain kembali datang, dia pesan ketoprak
Saya makan lebih dulu tapi dia selesai lebih dulu.
Beberapa pendemo berdatangan, dengan kaos seragam berwarna-warni, namun rata-rata ada tulisannya: May Day!
Saya ambil sebatang rokok, menyalakannya.
Lelaki di sebelah saya itu seperti melirik, rupanya dia ingin meminjam korek.
Dari situ obrolan pun dimulai, kembali soal berhentinya lalu lintas. kendaraan di jalan dan kekhawatiran tak bisa pulang.
“Biasanya ini sampai jam tujuh malam, Pak.” Tukang ketoprak tahu-tahu ikut bercerita.
Saya menerawang.
Di utara, tempat di mana saya harus melanjutkan perjalanan, beberapa tentara tampak bersiaga.
Di depan gedung MK, ada yang berorasi
Susah menerobos mereka ini karena mereka berdiri dan duduk memenuhi trotoar tempat saya berjalan.
Saya meliukkan tubuh, menelusup di antara sepeda motor yang parkir. Orasi tetap terdengar.
Saya kembali berjalan, tujuan saya di seputaran harmoni masih lumayan jauh.
Serombongan polisi berbaris rapi, mereka berjalan, menghampiri pendemo yang berorasi.
Saya terus berjalan, sesekali melirik.
Sumber gambar

Merawat Arloji

arloji_kunoBerikut cara merawat arloji kesayangan Anda.

Penggunaan

Pastikan bagian belakang arloji yang selalu bersentuhan dengan kulit tangan tetap kering. Sebab, air keringat dapat menimbulkan karat dan kelapukan untuk jam tangan berbahan karet atau kulit.

Hindari pengunaan jam tangan terlalu kencang karena akan dapat menyebabkan  kondisi lembab dan rasa tak nyaman pada pergelangan tangan. Jagalah pula arloji Anda jangan sampai terjatuh karena dapat memengaruhi komponen-komponen lain di dalamnya.

Penyimpanan

Jam tangan sebaiknya jangan diletakkan begitu saja. Gunakanlah kotak khusus agar jam terhindar dari kelembaban.  Selain itu, jam hendaknya dijauhkan dari medan magnet yang kuat karena lagi-lagi dapat memengaruhi komponen di dalamhya. Medan magnet yang kuat di antaranya bisa karena televisi, pengeras suara atau mesin pendingin

Servis

Bila terjadi kerusakan pada arloji Anda, datanglah ke lokasi servis yang terpercaya sesuai merk jam tangan Anda. Saya pernah mengalami kerusakan lebih parah, padahal niat awal cuma mau mengganti baterai di tukang reparasi jam pinggir jalan.

Perawatan

Apabila Anda memiliki jam tangan berbahan stailess steel, agar tetap mengilap lakukanlah perawatan berkala. Bersihkan rantai jam dengan air hangat dan sikat dengan sikat gigi bertekstur lembut. Sementata itu, untuk strap berbahan kulit atau karet dapat dibersihkan dengan kain kering berbahan katun.

Sumber gambar

Tulisan ini diringkas dari Klasika di Koran Kompas menggunakan SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 16GB – Silver [GT-P3100TSEXSE]

Diagram Kreatif Pram

writeDalam menulis, Pram menemukan apa yang disebutnya diagram menulis kreatif. Di dalamnya terdapat unsur gunung, kuil, dan matahari. Gunung merupakan lambang ketekunan, dikatakan Pram, sebagai pesangon yang diwakili puncak-puncaknya. Kuil menyimbolkan ilmu, pengetahuan, kearifan, serta kebijakan. Sementara matahari mewakili sang pribadi dengan integritasnya.

 Kata Pram, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dirangkum dari ‘Klasika’ di harian Kompas

Sumber gambar

Tulisan ini diketik menggunakan SAMSUNG Galaxy Tab 2 7.0 Espresso 16GB – Silver [GT-P3100TSEXSE]