Pesta Rakyat (Opini Desi Anwar di The Jakarta Globe)

presiden_jokowi

Seorang menteri dari Partai Demokrat pada masa kabinet Mantan Presiden SBY mengomentari pesta rakyat untuk Presiden Jokowi sebagai bentuk manipulatif dan oportunis. Sebuah perayaan yang menghabiskan banyak dana dan waktu. Dulu, manakala SBY terpilih, lanjut menteri tersebut, tidak ada pesta atau perayaan besar, beliau langsung bekerja.

Dalam suasana gembira menyambut presiden baru, adalah lumrah untuk mengendalikan harapan dengan menghadapkannya pada kenyataan. Harapan adalah wajar, namun menyiapkan diri untuk yang terburuk juga sangat penting untuk mencegah kekecewaan berujung pada putus asa.

Secara pribadi, saya kira keinginan dan energi yang ditujukan pada Jokowi oleh masyarakat Indonesia, terlepas dari kemenangan tipisnya dalam pemilu, semakin menunjukkan kekuatan dan modal yang dimilikinya lebih besar dibandingkan dengan mandat yang diterima oleh SBY dulu pada saat beliau terpilih.

Adalah keliru bagi sebagian elit politik yang memandang sinis. Kendati sangat jelas, banyak politisi yang percaya, bahwa masyarakat yang ada di sana semata-mata dimanfaatkan.

Di samping kebutuhan kita untuk mengatur harapan, perasaan saya berkata, bahwa Jokowi lebih paham dari pendahulunya atau elit politik mengenai apa yang penting bagi rakyat. Beliau sangat jarang menggunakan istilah ‘memimpin’, namun lebih senang menggunakan ‘melayani’. Sinisme dan bahasa politik barangkali bisa mencitrakan beliau sebagai orang yang lemah dan terkepung, namun pemahamannya pada kehendak rakyat adalah kekuatan sejatinya.

Jokowi tidak mengesampingkan partai untuk rakyat, namun rakyat biasa yang bergerak dan menjadi relawan serta mengesampingkan partai, bukan hanya untuk Jokowi, namun terlebih lagi untuk diri mereka sendiri. Di Lapangan Monumen Nasional pada hari Senin, saat melihat rakyat yang berkumpul untuk mendengarkan presidennya berbicara langsung dengan mereka, hubungan dekat antara pemimpin dan rakyat itu sangat jelas terlihat.

Rakyat biasa berlari ke arah Jokowi. Namun, yang lebih penting dan sangat mencengangkan adalah manakala Jokowi berlari, mendekati rakyatnya, membuat pusing pasukan pengamanan presiden. Kita sudah terbiasa dengan kerumitan pengamanan terhadap SBY ke mana pun beliau pergi. Pasukan pengamanan SBY membuat semacam pulau yang steril dan jarak antara VIP dan rakyat, terlalu tinggi untuk dapat diraih oleh rakyat biasa yang ada di jalanan.

Namun Jokowi benar-benar terlihat aslinya, berbaur, memberi salam, bersalaman dan berfoto bersama dengan rakyat.

Rakyat adalah zona nyaman beliau., bukan protokoler yang kaku, formalitas dan ruangan ber-AC. Sepanjang upacara pelantikan, beliau tampak grogi dan tidak nyaman. Di atas panggung di Monas dan ketika bertemu dengan warga di istana beliau justru tampak begitu gembira.

Dalam pidatonya, beliau tak pernah lupa untuk secara khusus menyebut pedagang bakso, pedagang kaki lima, pedagang kecil, petani, pelayan toko, guru, buruh, dan banyak profesi lain. Beliau mendorong mereka untuk melakukan perannya masing-masing dan bekerja keras bersama-sama sehingga kapal besar yang sekarang dinahkodainya dapat menuju Indonesia yang lebih baik.

Hal tersebut, saya kira adalah inti dari kepemimpinan Jokowi. Namun, saat menemukan gaya tersebut, atau sekadar kehadiran Jokowi adalah satu persoalan bagi mereka yang merasa berhak mendapatkan sesuatu. Bagi mereka, hal itu justru membuat jengkel.

Sebab, bagi Jokowi, motivasi utamanya adalah Indonesia yang terdiri dari masyarakat dengan pendapatan kecil, rakyat biasa yang menjadi bagian terbesar dari rakyat. Mereka yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan telah lama merindukan seorang pemimpin yang memperlakukan mereka bukan sebagai obyek atau angka statistik belaka, namun sebagai individu-individu dengan harapan dan gairah yang nyata serta dapat membuat hidup dan negaranya lebih baik.

Itulah kiranya yang menyebabkan rakyat bersuka cita. Bukan semata untuk makanan gratis dan hiburan. Namun, lebih daripada itu, sekali dalam sejarah negeri ini, ada seseorang yang jujur dan bersemangat merentangkan tangannya dan meyakinkan, bahwa dia di sana untuk rakyat.

Jika suatu hari nanti beliau gagal dalam usahanya, itu semua lebih disebabkan karena orang-orang di sekitarnya tidak menginginkan beliau meraih keberhasilan.

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari sini

Sumber gambar dari sini

A question

Question_Mark

This man looks up at the sky where he hangs on the biggest question he ever had. His question is how to deal with the happiness?

Once he ever felt the greatest enjoyment then it was followed by the deep sorrow. This happiness was only last for a moment, but the sadness was even longer.

His previous experience gives an effect when it comes another delightful event. It is a happiness, and yet he confused how to react. If he shows his feeling, he afraid it will only last in a twinkling of an eye.

Now, he decides that he should not too overjoyed when it comes a happiness, and should have patience when his life miserable.

The picture is borrowed from here

Our Seeds

Capture_twit

Someday….
Who will plant paddy?
When you have grown….
Will it green in this soil?

Those sentences loosely translate from the second song performed by ‘Akar Bambu’ in the lecture by Dr. Vandana Shiva at Universitas Indonesia on Monday (18/08). The Akar Bambu trio on this occasion sang three songs; about sharing, the last farmer, and the last seed. The lead vocalist of the group asked the audience during the break between the songs, ‘What if there was only one last seed left in the world?’

This lecture was titled ‘Our seeds, our future: strengthening Indonesia food sovereignty’. To open her talk, Dr. Shiva mentioned the link between seed freedom and our freedom. Then she followed with a brief history of seeds, and discussed how seeds as a resource have caused conflict and even violence in agriculture.

Violence in agriculture means that its tools and technology came from the war industry. In this case, fertiliser, pesticides, and other chemical materials for plants are the same chemicals have been used in bomb production.

Moreover, Dr. Shiva revealed the hidden agenda behind the seed industry. The industry has designed dependency for farmers through its monopoly on seed distribution. It promotes ‘super seeds’ and endorse a monoculture system that reduces biodiversity. At the same time, this industry also generates alarm for farmers by seed scarcity.

In addition, Dr. Shiva also blamed governments and world organisations that play a significant role through theirs laws concerning seed issues. She listed the various actions of such organisations which, for example, arrest farmers who gather and save their own seeds.

In the last part of her presentation, Dr. Shiva spoke mostly about biodiversity. She said that biodiversity was the answer of food sufficiency and to adapt towards climate change.

She also suggested that human beings should keep seeds on the hand in order to fulfill the food demands of the population. Keeping seeds in your hand, is the most significant key for peace on earth.

Related links:

Dr. Vandana Shiva profile

Navdanya Movement

===
Versi Bahasa Indonesia

Suatu hari nanti….
Siapa yang akan menanam padi?
Manakala kamu telah dewasa….
Akankah tanah ini tetap hijau?

Bait tersebut dipinjam dari lagu kedua yang dinyanyikan oleh ‘Akar Bambu’ dalam kuliah umum oleh Dr. Vandana Shiva di Universitas Indonesia pada Senin (18/08). Trio Akar Bambu pada kesempatan tersebut menyanyikan tiga buah lagu yang bercerita tentang saling berbagi, petani terakhir dan benih terakhir. Vokalis Trio Bambu pada jeda antar lagu menanyakan kepada peserta seminar, “Bagaimana jika hanya tersisa satu benih terakhir di dunia ini?”

Kuliah umum ini berjudul ‘Benih kita, Masa Depan Kita: memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.’ Dalam pembukaannya, Dr. Shiva menyampaikan, bahwa ada hubungan antara kemerdekaan benih dan kemerdekaan kita. Kemudian beliau melanjutkan dengan sejarah singkat benih, bagaimana benih sebagai satu sumber daya memicu konlik dan bahkan tindakan kekerasan dalam bidang pertanian.

Kekerasan dalam bidang pertanian berarti, pertanian yang peralatan dan teknologi yang digunakan berasal dari industri untuk peperangan. Dalam hal ini, pupuk, pestisida dan berbagai produk kimia lain untuk tanaman berasal dari material yang sama dengan material yang digunakan pada saat perang, seperti halnya produksi bom.

Lebih lanjut, Dr. Shiva mengungkapkan agenda tersembunyi di belakang industri benih. Sebuah bidang industri yang didesain untuk menciptakan ketergantungan para petani melalui strategi monopoli keanekaragaman benih. Industri ini mempromosikan benih super dan sistem monokultur yang menghapus keanekaragaman. Pada saat yang sama, industri benih juga menciptakan kekhawatiran para petani dengan melontarkan isu mengenai kelangkaan benih.

Sebagai informasi tambahan, Dr. Shiva juga menyalahkan pemerintah dan organisasi dunia yang memainkan peran melalui hukum dan aktivitas mereka terkait dengan isu benih. Beliau membuat satu daftar pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah atau organisasi lain yang menahan seorang petani karena tengah mengumpulkan dan menjaga benih mereka sendiri.

Pada bagian akhir paparannya, Dr. Shiva lebih berfokus pada keanekaragaman. Beliau percaya bahwa keanekaragaman adalah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Dr. Shiva juga menyarankan, bahwa seseorang harus menyimpan benih dalam rangka untuk untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia. Benih yang tersimpan ini adalah kunci dalam usaha menciptakan perdamaian dunia.

merangkum yang terserak, memungut yang tercecer