Memahami BBM yang Diam-diam Harganya Naik

Selalu banyak pro dan kontra saat bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan harga. Mulai dari sisi dampaknya pada masyarakat hingga mekanisme kenaikan harganya, apakah menggunakan pengumuman atau diam-diam.

Saya mendukung kenaikan harga BBM secara diam-diam. Hal ini disebabkan banyaknya akibat negatif manakala kenaikan harga itu diumumkan jauh-jauh hari. Sering kita lihat protes yang berwujud demonstrasi manakala terjadi kenaikan harga. Tak jarang, demonstrasi itu merugikan banyak pihak.

Selain itu, dengan dinaikkannya harga tanpa didahului pengumuman, maka tak ada kesempatan bagi para pihak yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk beraksi. Sering kita dengar pembelian BBM secara besar-besaran untuk ditimbun. Kerapkali juga terjadi antrian yang sangat panjang di berbagai SPBU di malam sebelum kenaikan harga.

Kenaikan harga BBM tanpa pengumuman adalah ajang latihan bagi masyarakat agar menjadi warga yang tidak kagetan. Meskipun barangkali mereka sudah sangat terlatih di zaman serba tak tentu seperti sekarang ini. Saya yakin, masyarakat hanya perlu waktu seminggu paling lama untuk penyesuaiannya dan semua akan kembali normal.

Bukankah kenaikan harga BBM akan memicu melonjaknya barang-barang kebutuhan masyarakat, Goop?

Tak bisa dimungkiri, naiknya BBM tentu akan menjadi penyebab melonjaknya berbagai harga kebutuhan. Namun, apakah penurunan harga BBM akan menurunkan harga-harga kebutuhan juga?

Pengalaman beberapa waktu lalu, saat harga BBM naik kemudian diturunkan, tak ada penurunan harga kebutuhan maupun penurunan tarif angkot yang sudah terlanjur naik. Saya kira, BBM adalah salah satu komponen penentu harga, namun di luar itu masih banyak faktor lain. Misalnya saja sistem distribusi atau pun ketersediaan bagi bahan-bahan pangan yang musiman. Alhasil, naik dan turunnya harga tak semata-mata karena BBM saja.

Apakah ada manfaat dari kenaikan harga BBM, Goop?

Saya kira dengan harga minyak yang semakin naik bisa menjadi peluang bagi penurunan pemanasan global yang menjadi penyebab perubahan iklim. Apabila BBM murah, maka pemilik kendaraan pribadi tentu enggan beralih ke moda transportasi massal. Akibatnya polusi akan terus terjadi, bumi kian panas, dan bencana makin sering terjadi.

Saya banyak berharap, naiknya harga BBM bisa memaksa orang untuk lebih banyak berjalan atau bersepeda untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. BBM murah ditambah harga kendaraan yang juga murah telah menyebabkan orang malas untuk bergerak. Kadang, untuk menempuh jarak 100 meter saja, misalnya ke warung, kita menggunakan sepeda motor. Semakin banyak orang yang berjalan, berlari, atau bersepeda dan menggunakan moda transportasi massal, harapannya semakin sedikit kemacetan, angka kecelakaan, dan tingkat polusi.

Saya pernah membaca, untuk mencegah pemanasan global, yang kita perlukan bukan bahan bakar fosil yang murah, namun bahan bakar alternatif yang biarpun mahal tapi tidak menyebabkan polusi makin parah.

Barangkali dengan naiknya harga BBM bisa menjadi jalan bagi berkembangnya penggunaan energi alternatif. Baik itu tenaga surya, angin, air, gelombang laut, yang keberadaanya melimpah namun masih belum banyak dimanfaatkan.

Demikianlah pendapat saya, bagaimana kalau menurut Anda?

Ah ya, jika Anda akan mengambil tes academic IELTS, pada sesi writing bisa jadi jenis soalnya adalah pro dan kontra. Ada satu permasalahan dan kebijakan kemudian Anda diminta menjelaskan posisi apakah mendukung atau menentang kebijakan tersebut lengkap dengan argumentasinya. Posisi Anda harus jelas di pihak yang pro atau kontra dan alasan-alasannya pun harus kuat.

Di Situ

Sependek pengetahuan saya, lema ‘di situ’ digunakan untuk menunjukkan tempat. Sebagai contoh, di situ bank, di situ kantor pos, di situ tempat sampah, dll.

Namun, entah dari mana awalnya, telah terjadi perubahan fungsi. Misalnya saja pada rangkaian kata yang sekarang ini begitu populer, “di situ kadang saya merasa sedih.”

Saya kemudian bertanya-tanya, di manakah di situ yang dimaksud? Apakah sebuah pojok ruangan yang sunyi nan sepi tempat si pembicara merasa sedih ataukah puncak gunung yang sunyi sebagai tempat untuk bermuram durja?

Kemudian saya penasaran, bagaimana konteks kalimat “di situ kadang saya merasa sedih” tersebut.

Rupa-rupanya, kalimat tersebut adalah ungkapan paling paripurna untuk menunjukkan satu kesedihan dari gambaran situasi yang disebutkan pada bagian kalimat yang mengawali pernyataan “di situ” tersebut. Pendek kata, di situ pada rangkaian kalimat yang ngepop belakangan ini tak ada sangkut pautnya dengan keterangan tempat.

Apakah hal itu sebuah kekeliruan yang disengaja? Atau, apakah itu penanda seseorang agar disebut gaul?

Seringkali saya dibuat bingung dengan penggunaan beberapa kata yang kerap wara wiri di media sosial. Di antara sedikit yang saya catat adalah ‘sik’ untuk menggantikan ‘sih’. Contoh lainnya adalah ‘bingits’ yang menjadi pengganti ‘banget’.

Menghadapi fenomena tersebut, kembali saya bertanya-tanya, apa gunanya ‘sik’? Bagaimana mengucapkannya, apakah tetap ‘sih’ atau telah berubah menjadi ‘sih’? Pun dengan ‘bingits’, kata tersebut sebatas pada penulisan saja atau juga ada penyesuaian dalam pengucapannya?

Bagi saya keduanya menyusahkan, baik dari sisi penulisan maupun pengucapannya. Kalau Anda, apakah juga turut menggunakan tiga lema baru tersebut? Bagaimana perasaan Anda saat menggunakannya?

Pesan Bapak Tentang Perasaan Benar

Bapak saya yang nun jauh di kampung selalu punya cara sendiri untuk mengomentari satu peristiwa. Tentu saja beliau tak ikut cemuwit di twitter atau nyetatus di facebook.

Senjatanya adalah sms kepada anaknya ini. Misalnya saja sms-nya tentang fenomena perseteruan dua lembaga negara yang terjadi hari-hari ini.

Tempat beliau tinggal jauh dari epicentrum peristiwa. Suasana kampung yang lambat dan sepi juga membuat penilaian darinya berbeda. Kendati barangkali tak ada jeda berarti dalam rentang waktu penerimaan berita, namun catatan darinya seperti berjarak, mengamati dari jauh, tak hendak buru-buru berkomentar.

Maka berikut ini saya bagi sms dari beliau, terutama sebagai pengingat saya sendiri.

Mas, sebagai renungan sebelum tidur. Terjadinya perselisihan dr yg kecil sampai yg besar berawal dr perasaan merasa benar. Selanjutjya, bila hal tsb diekspresikan, maka akan timbul pendpt benar. Pendpt benar yg tdk  dilandasi dg kejujuran akan tumbuh perasaan merasa benar yg buta yg bertentangan dg kebenaran itu sendiri. Bila hal ini dipelihara dpt menjadi bibit perselisihan. Slmt merenung.

Apakah hari ini Anda sudah menerima pesan dari Bapak?