Pentingnya Bermain untuk Kita

play_in_the_workplace

Hidup kita telah menjadi urusan yang sangat serius. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa jalan keluar dari hidup yang terlampau serius adalah dengan lebih banyak bermain. Jadi, keluar dan bermainlah.

Barangkali di masa kecil Anda adalah orang yang senang bermain. Kemudian Anda bersekolah dan menemukan, bahwa pekerjaan rumah, tugas, serta ujian mulai menyita perhatian. Saat itu Anda masih mencoba untuk tetap bermain dengan misalnya mendengarkan atau bermain musik yang disukai, namun rupanya ini pun menjadi berubah menjadi satu hal yang serius. Waktu berjalan dan datanglah masa media sosial, kemudian Anda pun mulai asyik bermain dengan fasilitas baru ini, tapi lambat laun Anda pun menjadi terlampau serius dengannya.

Kendati begitu, Anda tak letih untuk terus mencoba mainan baru. Sebab, kita semua adalah petualang yang senang dan tertantang dengan hal baru. Anda terus mencoba dengan cara tersendiri, biarpun misalnya Twitter membuat Anda seperti seorang petualang yang mesti bersembunyi dari ganasnya piranha di suatu sungai. Namun, bukankah begitu menyenangkan saat menemukan syaraf-syaraf Anda menegang karena debar di dada saat Anda bermain-main itu?

Bermain dan membiasakan diri untuk terus melakukannya bukan hanya menyenangkan, namun kegiatan tersebut juga bahan dasar untuk menjaga agar mental tetap sehat.

Dalam Bahasa Inggris, ‘play’ atau bermain antonimnya adalah ‘work’ atau bekerja. Namun, kegiatan bermain itu sendiri sangatlah kompleks. Seorang Psikiatris, Dr. Stuart Brown menjelaskan, bahwa antonim bermain bukanlah bekerja, namun depresi! Dr. Brown sudah bertahun-tahun meneliti tentang sejarah bermain dari pasiennya, mereka adalah para pemuda pembunuh yang tidak memiliki sejarah bermain. Dr. Brown percaya, bahwa bermain apapun jenis permainan tersebut dari yang rumit sampai dengan sederhana sangatlah penting untuk perkembangan otak. “Tak ada yang bisa mencerahkan otak seperti bermain.” Kata Dr. Brown.

Kita tahu permainan secara alami berdasarkan insting sebagai seorang anak yang sedang tumbuh. Namun, studi menunjukkan bahwa orang dewasa pun perlu bermain dan menjadi pribadi yang suka bermain. Memprioritaskan bermain bagi orang dewasa terdengar sembrono, karena kita hidup di zaman yang penuh dengan masalah dan ketidakadilan. Akan tetapi, masalah memerlukan solusi yang kreatif. Apakah bermain dapat membantu kita menemukan solusi tersebut? Bagaimana bila bermain adalah salah satu jalan keluar dari berbagai masalah itu? Dr. Brown adalah salah satu peneliti yang menyarankan hal itu. Ahli lain seperti Einstein pun berkata, “Bermain adalah bentuk tertinggi dari penelitian.” Kemudian bila merunut ke belakang, Archimedes pun berseru “Eureka!” di kamar mandi, bukannya di laboratorium.

Kita meyakini, bahwa kita terlalu sibuk untuk melakukan suatu permainan. Budaya kita memberikan nilai lebih pada ‘kesibukan’, ini cara kita untuk mengukur kesuksesan. Pernah pada suatu masa ukuran kesuksesan adalah alasan religius, yang ‘berjasa’ dan ‘tidak berjasa'; kini politisi membagi produktivitas menjadi: ‘pencari kerja’, ‘pekerja miskin’, ‘pekerja untuk keluarga’. Kesibukan telah menggantikan alasan religius, namun hal baru tersebut tak juga menolong kita seperti hal lama.

Bermain bukan menunjukkan kemalasan, sebaliknya hal ini sangat berguna. Ini adalah bentuk rekreasi dengan penekanan dua suku kata terakhir: kreasi. Bermain sangat diperlukan oleh manusia dan baik untuk individu. Sebuah budaya yang mendorong kegiatan ini akan mendapatkan banyak manfaat. Denmark, sebagai negara paling bahagia di dunia adalah contohnya. Kemudahan dalam bekerja dan penitipan anak yang terjangkau berarti lebih banyak waktu luang. Ini juga menandakan adanya kesetaraan gender dan budaya ‘kerja untuk hidup’. Dengan dilakukannya hal ini, maka dapat memberikan harapan bahwa seseorang berhak memenuhi kepentingannya sendiri, termasuk bagi seorang ibu.

Di tempat kerja, sebuah percobaan dilakukan, pemberian tugas yang sesuai dengan struktur hari kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Ekonom, peneliti, dan karyawan yang berpikiran maju mengetahui hal tersebut. Google dan Pixar sudah mempraktikan sistem kerja yang menyenangkan ini dan banyak orang ingin bergabung. Bos Virgin, Richard Branson juga mengumumkan waktu libur tak terbatas bagi pegawainya. Kerja pintar bukan kerja keras adalah cara baru dalam dunia kerja.

Kita semua membutuhkan bermain, terutama bagi mereka yang berpendapat kita terlampau sibuk. Lima menit sehari telah memberikan perbedaan. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?

Sumber tulisan dari sini
Sumber gambar dari sini 

Pesta Rakyat (Opini Desi Anwar di The Jakarta Globe)

presiden_jokowi

Seorang menteri dari Partai Demokrat pada masa kabinet Mantan Presiden SBY mengomentari pesta rakyat untuk Presiden Jokowi sebagai bentuk manipulatif dan oportunis. Sebuah perayaan yang menghabiskan banyak dana dan waktu. Dulu, manakala SBY terpilih, lanjut menteri tersebut, tidak ada pesta atau perayaan besar, beliau langsung bekerja.

Dalam suasana gembira menyambut presiden baru, adalah lumrah untuk mengendalikan harapan dengan menghadapkannya pada kenyataan. Harapan adalah wajar, namun menyiapkan diri untuk yang terburuk juga sangat penting untuk mencegah kekecewaan berujung pada putus asa.

Secara pribadi, saya kira keinginan dan energi yang ditujukan pada Jokowi oleh masyarakat Indonesia, terlepas dari kemenangan tipisnya dalam pemilu, semakin menunjukkan kekuatan dan modal yang dimilikinya lebih besar dibandingkan dengan mandat yang diterima oleh SBY dulu pada saat beliau terpilih.

Adalah keliru bagi sebagian elit politik yang memandang sinis. Kendati sangat jelas, banyak politisi yang percaya, bahwa masyarakat yang ada di sana semata-mata dimanfaatkan.

Di samping kebutuhan kita untuk mengatur harapan, perasaan saya berkata, bahwa Jokowi lebih paham dari pendahulunya atau elit politik mengenai apa yang penting bagi rakyat. Beliau sangat jarang menggunakan istilah ‘memimpin’, namun lebih senang menggunakan ‘melayani’. Sinisme dan bahasa politik barangkali bisa mencitrakan beliau sebagai orang yang lemah dan terkepung, namun pemahamannya pada kehendak rakyat adalah kekuatan sejatinya.

Jokowi tidak mengesampingkan partai untuk rakyat, namun rakyat biasa yang bergerak dan menjadi relawan serta mengesampingkan partai, bukan hanya untuk Jokowi, namun terlebih lagi untuk diri mereka sendiri. Di Lapangan Monumen Nasional pada hari Senin, saat melihat rakyat yang berkumpul untuk mendengarkan presidennya berbicara langsung dengan mereka, hubungan dekat antara pemimpin dan rakyat itu sangat jelas terlihat.

Rakyat biasa berlari ke arah Jokowi. Namun, yang lebih penting dan sangat mencengangkan adalah manakala Jokowi berlari, mendekati rakyatnya, membuat pusing pasukan pengamanan presiden. Kita sudah terbiasa dengan kerumitan pengamanan terhadap SBY ke mana pun beliau pergi. Pasukan pengamanan SBY membuat semacam pulau yang steril dan jarak antara VIP dan rakyat, terlalu tinggi untuk dapat diraih oleh rakyat biasa yang ada di jalanan.

Namun Jokowi benar-benar terlihat aslinya, berbaur, memberi salam, bersalaman dan berfoto bersama dengan rakyat.

Rakyat adalah zona nyaman beliau., bukan protokoler yang kaku, formalitas dan ruangan ber-AC. Sepanjang upacara pelantikan, beliau tampak grogi dan tidak nyaman. Di atas panggung di Monas dan ketika bertemu dengan warga di istana beliau justru tampak begitu gembira.

Dalam pidatonya, beliau tak pernah lupa untuk secara khusus menyebut pedagang bakso, pedagang kaki lima, pedagang kecil, petani, pelayan toko, guru, buruh, dan banyak profesi lain. Beliau mendorong mereka untuk melakukan perannya masing-masing dan bekerja keras bersama-sama sehingga kapal besar yang sekarang dinahkodainya dapat menuju Indonesia yang lebih baik.

Hal tersebut, saya kira adalah inti dari kepemimpinan Jokowi. Namun, saat menemukan gaya tersebut, atau sekadar kehadiran Jokowi adalah satu persoalan bagi mereka yang merasa berhak mendapatkan sesuatu. Bagi mereka, hal itu justru membuat jengkel.

Sebab, bagi Jokowi, motivasi utamanya adalah Indonesia yang terdiri dari masyarakat dengan pendapatan kecil, rakyat biasa yang menjadi bagian terbesar dari rakyat. Mereka yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan telah lama merindukan seorang pemimpin yang memperlakukan mereka bukan sebagai obyek atau angka statistik belaka, namun sebagai individu-individu dengan harapan dan gairah yang nyata serta dapat membuat hidup dan negaranya lebih baik.

Itulah kiranya yang menyebabkan rakyat bersuka cita. Bukan semata untuk makanan gratis dan hiburan. Namun, lebih daripada itu, sekali dalam sejarah negeri ini, ada seseorang yang jujur dan bersemangat merentangkan tangannya dan meyakinkan, bahwa dia di sana untuk rakyat.

Jika suatu hari nanti beliau gagal dalam usahanya, itu semua lebih disebabkan karena orang-orang di sekitarnya tidak menginginkan beliau meraih keberhasilan.

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari sini

Sumber gambar dari sini

A question

Question_Mark

This man looks up at the sky where he hangs on the biggest question he ever had. His question is how to deal with the happiness?

Once he ever felt the greatest enjoyment then it was followed by the deep sorrow. This happiness was only last for a moment, but the sadness was even longer.

His previous experience gives an effect when it comes another delightful event. It is a happiness, and yet he confused how to react. If he shows his feeling, he afraid it will only last in a twinkling of an eye.

Now, he decides that he should not too overjoyed when it comes a happiness, and should have patience when his life miserable.

The picture is borrowed from here

merangkum yang terserak, memungut yang tercecer