Mungkinkah Mengatasi Kerentanan?

Seseorang menjadi rentan karena perasaan malu dan takut yang dimilikinya. Malu atau takut itu kemudian menjelma menjadi satu tindakan. Terkadang, tindakan itu merugikan bagi dirinya sendiri, namun tak jarang juga merugikan orang lain.

Sebagai manusia yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, maka perasaan rentan akan memengaruhi hubungan itu. Sebagai contoh, orang yang ingin menyembunyikan kelemahan atau malu untuk tampil akan cenderung untuk menutup diri. Semakin dia menutup diri, barangkali semakin besar aib yang ingin ditutupinya.

Menyendiri adalah tindakan lain yang biasa dilakukan oleh seseorang yang rentan. Menurutnya, mengucilkan diri adalah tindakan yang benar untuk dilakukan. Padahal, alih-alih dia mendapat pertolongan, tingkat kerentanan yang dimilikinya justru bisa jadi semakin besar.

Seseorang dengan kerentanan yang tinggi merasa dia tak aman dan selalu terancam. Hal ini tergambar dalam tingkah lakunya sehari-hari, dalam berbagai aspek hidupnya.

Sebagai contoh adalah dalam bidang keagamaan. Aspek hidup yang paling pribadi ini berhubungan dengan keyakinan, perubahan, kepercayaan, dan tidak ada keniscayaan di dalamnya karena sangatlah dinamis. Namun, bila aspek religi ini berada pada seseorang yang rentan, maka menjadi suatu kemestian. “Aku benar dan kamu salah, tutup mulutmu!” Kata orang tersebut.

Orang yang rentan adalah seseorang yang mati rasa. Secara sengaja mereka mematikan perasaannya, barangkali agar mereka tak harus melihat kelemahan dirinya yang membuatnya malu, tak mesti mengakui kekurangannya, tak hendak menunjukkan ketakutannya. Mereka mencoba menutup itu semua dengan tindakan lain yang seolah-olah membuatnya tampak sempurna.

Mereka membangun sebuah dunia baru yang palsu, tampak sempurna, padahal sekadar topeng semata.

Kerentanan yang dihadapi seseorang tak mudah untuk diatasi. Namun, kita dapat memulainya dengan melihat kelemahan, kekurangan, dan kelemahan diri sendiri. Sedikit demi sedikit kita harus tampil, kita harus terlihat sebagai seorang pribadi yang utuh, pribadi yang tak selalu sempurna.

Selanjutnya, kita juga harus terhubung dengan orang lain. Contohnya adalah dengan mencintai sepenuh hati tanpa jaminan adanya perasaan serupa dari orang lain. Layaknya perasaan yang dimiliki oleh orang tua kepada anaknya, seseorang harus berlatih untuk melakukan hal itu dan dia bisa mengatasi kerentanannya.

Betapa pun rentannya kita, namun dari situlah peluang untuk maju, bertahan, dan berkreasi. Kita bisa mengatasi berbagai kelemahan, ketakukan, dan kekurangan dengan penerimaan diri dan rasa terima kasih. Jangan lupa, selalu bergembira dan berpikir positif.

Selengkapnya tentang kekuatan kerentanan, silakan lihat video berikut ini.

Biar Update Ajah :D

Laporan aktivitas saya:

  1. Membaca buku kedua dari serial ‘A Song of Ice and Fire’ karya George RR Martin yang berjudul ‘A Clash of Kings’
  2. Menonton seri keempat dari tv seri ‘Games of Thrones’
  3. Membaca twitter, membaca facebook, menutupnya, kemudian membaca buku lagi.

Apa aktivitasmu, kawan?

Adakah membaca buku satu di antaranya?

Barangkali saja kau lupa, bau buku yang baru dibuka itu menyenangkan, kawan!

Tentang Fantasi: George RR Martin

Fantasi terbaik ditulis dalam bahasa mimpi. Fantasi tersebut hidup, selayaknya mimpi yang juga hidup, lebih nyata daripada kenyataan, setidaknya untuk waktu yang singkat, sebuah saat yang ajaib sebelum kita terbangun.

Fantasi adalah silver dan merah saga, nila dan biru langit, batu obsidian yang dilapisi emas dan permata lazuli. Kenyataan adalah kayu lapis dan plastik yang berwarna coklat dan menjemukan. Fantasi terasa seperti madu, kayu manis, cengkeh, daging merah yang langka dan khamar yang manis seperti musim panas. Kenyataan adalah kacang dan tahu, serta menjadi abu di akhirnya. Kenyataan adalah mall bergaris yang ada di Burbank, cerobong asap di Cleveland, serta tempat parkir di Newark. Fantasi adalah menara di Minas Tirith, batu-batu kuno di Gormenghast, aula di Camelot. Fantasi terbang di sayap Icarus, kenyataan di Soutwest Airlines. Kenapa mimpi kita menjadi begitu tak berarti ketika mereka menjelma menjadi kenyataan?

Saya kira, kita membaca fantasi untuk menemukan warna-warna, merasakan bumbu-bumbu yang kuat dan nyanyian sirine. Ada sesuatu yang antik dan nyata dalam fantasi, berbicara mengenai sesuatu yang dalam dan tersembunyi dalam diri kita. Serupa seorang anak kecil yang bermimpi bahwa suatu hari dia akan berburu di hutan pada suatu malam dan berpesta di bawah bayangan bukit serta menemukan cinta yang abadi di suatu tempat di selatan Oz atau utara Shangri-La.

Mereka dapat memeluk surganya. Ketika saya mati, segera saya akan pergi ke Middle Earth.

Sumber dari sini