Bagaimana Perbandingan Memengaruhi Kita?

red-sale-sign

Entah siapa yang menemukan peribahasa ‘rumpu tetangga selalu lebih hijau’, namun ujaran ini benar adanya.

Perbandingan selalu memberikan pengaruh untuk kita dari mulai hal yang kecil hingga yang besar. Perbandingan juga sangat memengaruhi bagaimana kita membuat keputusan yang buruk.

Contoh dari perbandingan itu banyak. Di pusat penjualan barang-barang elektronik misalnya, kita akan bingung memilih di antara dua speaker. Kebingungan ini disebabkan misalnya karena dua speaker tadi memiliki harga yang berbeda dan kualitas suara yang berbeda pula.

Perbandingan harga bagi Anda yang memiliki uang melimpah barangkali tidak menjadi persoalan besar, karena berapa pun harga speaker yang ada bisa didapatkan. Tetapi untuk yang anggarannya sedikit bisa jadi selisih sekian ribu bisa memengaruhi keputusan kita.

Kualitas suara juga menjadi pertimbangan manakala Anda memilih speaker. Padahal, kualitas suara itu baru kentara kalau dibandingkan di toko. Saat di rumah, speaker yang Anda pilih itulah yang akan didengar dan tidak ada pembandingnya lagi.

Dua hal di atas bila tidak hati-hati bisa jadi akan berujung pada kesalahan keputusan dan penyesalan di kemudian hari. Misalnya saja Anda mendapatkan speaker dengan harga murah dan kualitas suara tidak begitu buruk. Anda pun mulai sering menggunakannya di rumah dan cukup puas, tetapi lama kelamaan seperti semua barang bikinan manusia lainnya, Anda akan merasa bosan dan mulai melirik-lirik speaker yang lain di toko.

Kita memiliki kecenderungan untuk melakukan atau bertindak dengan kecepatan. Terkadang tanpa memikirkan beberapa akibat di belakangnya. Apa yang pertama hinggap di pikiran kita itulah yang kita lakukan.

Saya pribadi memiliki pengalaman itu manakala berbelanja di toko bahan-bahan keperluan sehari-hari. Jadi, toko itu memiliki sistem penataan barang dan pelabelan harga sedemikian rupa yang membuat kita terjebak.

Seperti lazimnya toko, barang-barang yang sejenis akan ditaruh berdekatan. Susu dengan rombongan susu, mi instan dengan sekelompok mi instan dan seterusnya.

Di tiap barang akan ditaruh label harga yang berbeda-beda. Nah, pada barang tertentu labelnya akan menggunakan warna yang berbeda, kita ambil contoh saja warna hijau. Ini sebagai penanda bahwa barang tersebut memiliki harga yang lebih murah daripada barang yang sama dari merk yang berbeda dengan warna label umum yaitu kuning.

Diam-diam di pikiran saya akan terbentuk suatu pola pemikiran: jika menemukan barang dengan label hijau, maka harganya pasti lebih murah. Menggunakan pemahaman tersebut, kita pun mulai melanjutkan berbelanja dan di setiap barang yang berbeda, akan kita pilih yang memiliki label hijau itu.

Setelah lama dan berkali-kali belanja di sana, satu ketika dalam waktu yang lebih longgar, kondisi santai dan sedikit lebih cermat rupa-rupanya pemahaman saya itu keliru. Pada beberapa barang memang label hijau itu lebih murah, namun tidak selalu begitu. Sebab, setelah melihat lebih cermat di barang yang sama dengan merk yang berbeda ada juga harga yang lebih murah tetapi dengan label seperti barang-barang lainnya, yaitu kuning.

Di sini jelas, bila kita ingin mendapatkan harga yang murah, maka seharusnya yang saya lihat adalah angka atau harga di label dan bukan warna label.

Contoh lainnya adalah saat kita membeli sepatu. Sepatu kita ambil contoh saja merk A harganya 150, sementara sepatu merk B harganya 200. Bila kita mencari barang yang murah, maka pilihan kita akan serta merta jatuh ke barang A.

Namun, saudara-saudara, toko memiliki strategi sendiri, yaitu menaruh sepatu C di samping sepatu B yang memiliki harga 500. Di sini kita pun mulai dibuat bingung, mana yang harus dipilih?

Saat sepatu C tidak ada, maka kita akan dengan mudah menentukan pilihan. Namun, ketika C hadir, rasa-rasanya barang B menjadi tidak begitu mahal, bukan?

Demikianlah kira-kira bagaimana perbandingan memengaruhi bagaimana keputusan kita. Seringkali, seperti contoh-contoh di atas, dia membuat kita bingung dengan berbagai pilihan yang ujung-ujungnya–dalam kasus di atas–mengubah tujuan kita, yaitu mendapatkan harga yang murah.

Selain perbandingan, metode lain untuk mengubah keputusan adalah dengan memberikan informasi waktu. Contoh paling gampang adalah diskon 50% hanya untuk hari ini; harga akan naik pada 1 Agustus. Benarkah diskon hanya hari ini saja? Betulkah setelah 1 Agustus harga akan naik? Adakah yang melalukan survei dan mengecek kedua contoh tersebut? Seringkah Anda melihat dan merasakan hal semacam itu di sekitar kita?

Selamat malam, Sobat, selamat berbelanja.

Sumber gambar dari sini

Bagaimana caranya agar orang lain paham?

96265234-680A-4D2E-8666-2326958E83F4

Dalam berkomunikasi, seringkali kita kesulitan memberikan pemahaman kepada orang lain. Misalnya saja saat kita membicarakan sebuah pohon A, orang lain menerima informasi tersebut   sebagai pohon B.

Terkadang, situasi tersebut benar-benar menyebalkan, bukan?

Guna memberikan pemahaman kepada orang lain, ada baiknya kita mengetahui bagaimana diri kita mengubah satu informasi mulai dari menerima informsi tersebut hingga menyampaikannya.

Pada awalnya adalah dunia di luar kita dan berbagai kejadian yang terjadi di sana. Menggunakan indera, terutama penglihatan dan digabung dengan berbagai indera lain kita menerima informasi awal dari luar tersebut.

Diam-diam, dari informasi itu kemudian otak atau diri kita melakukan penyaringan (filter). Akan disaring informasi tersebut menjadi diterima, dikelompok-kelompokkan atau dibuang. Semua ini dilakukan dengan berdasarkan pada nilai-nilai, pengalaman, kepercayaan, ingatan, dan berbagai hal lain yang sudah kita miliki sebelumnya.

Satu informasi yang lolos dari penyaringan ini akan diolah lagi menjadi pemahaman internal dan menjadi satu pernyataan. Perlahan-lahan, informasi tersebut akan terus mengendap dan menjadi satu sikap atau perilaku.

Dengan melihat proses tersebut di atas, maka sangat penting untuk menyampaikan satu hal sesuai dengan pemahaman lawan bicara kita. Agar apa yang kita sampaikan itu cocok dan sesuai dengan pemahaman yang sudah terlebih dahulu ada pada diri lawan bicara.

Memahami semua proses ini sangat penting apabila Anda adalah seorang pembicara, pengajar, penulis atau apa pun yang sering harus berada dalam situasi untuk berbagi ide dengan orang lain.

Bukan hanya itu, dengan memahami proses ini diharapkan Anda akan bersabar manakala menemui orang yang sangat sulit diberi pemahaman. Barangkali bukan informasi yang Anda sampaikan keliru, namun karena nilai-nilai yang ada dalam diri orang itu tidak sesuai dengan informasi baru tersebut dan kemudian ia akan mencoba untuk menyaring, bahkan menolaknya.

Pada akhirnya komunikasi rasa-rasanya adalah proses yang tidak mudah dan perlu kesabaran.

Selamat berkomunikasi dan jangan lupa untuk bersabar ya. Hehe

Sumber gambar dari sini

Di antara dua pilihan sulit, mana yang harus dipilih?

6812149-stunning-train-track-wallpaper

Dalam hidup seringkali seseorang, institusi pemerintah, perusahaan, atau siapa saja dihadapkan pada dua pilihan yang begitu buruk dan hampir-hampir tak bisa memilih.

Sebuah kereta melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir mendekati stasiun. Mendadak Masinis panik karena rupanya rem tidak berfungsi. Ada dua pilihan yang dimiliki: terus melanjutkan kereta tersebut sampai ke stasiun atau mengubah arah?

Di stasiun itu tentu saja banyak penumpang yang sedang menunggu kereta dan berisiko tertabrak kereta yang melaju tanpa rem itu. Pilihan lainnya adalah mengubah arah ke jalur darurat yang memang disediakan untuk kereta yang mengalami rem blong. Namun, pada jalur itu kebetulan di saat yang sama ada dua orang yang sedang memperbaiki rel.

Tentu pilihan ini bukan ada di Masinis sebab menetukan satu jalur adalah di tangan petugas yang bisa mengatur rel dan sekaligus kereta apakah ia berjalan lurus ke stasiun atau ke jalur penyelamatan darurat.

Bila Anda adalah petugas tersebut, apa yang akan Anda lakukan?

Manakah yang akan Anda selamatkan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang berada di stasiun atau dua orang yang sedang bekerja di jalur penyelamat?

Bila Anda memilih orang-orang di stasiun, kenapa Anda memilih mereka?

Bila Anda memilih dua orang tak bersalah yang sedang bekerja, kenapa Anda memilih mereka?

Apakah dua orang di jalur penyelamat itu mewakili minoritas dan banyak orang di stasiun itu mewakili mayoritas?

Kalau Anda memilih orang di stasiun berarti bukan persoalan untuk menyingkirkan mereka yang sedikit. Kalau Anda memilih dua orang di jalur penyelamat berarti Anda tak memerhatikan mereka yang sedikit.

Selamat malam dan selamat beraktivitas

Salam

Sumber gambar dari sini