Di Situ

Sependek pengetahuan saya, lema ‘di situ’ digunakan untuk menunjukkan tempat. Sebagai contoh, di situ bank, di situ kantor pos, di situ tempat sampah, dll.

Namun, entah dari mana awalnya, telah terjadi perubahan fungsi. Misalnya saja pada rangkaian kata yang sekarang ini begitu populer, “di situ kadang saya merasa sedih.”

Saya kemudian bertanya-tanya, di manakah di situ yang dimaksud? Apakah sebuah pojok ruangan yang sunyi nan sepi tempat si pembicara merasa sedih ataukah puncak gunung yang sunyi sebagai tempat untuk bermuram durja?

Kemudian saya penasaran, bagaimana konteks kalimat “di situ kadang saya merasa sedih” tersebut.

Rupa-rupanya, kalimat tersebut adalah ungkapan paling paripurna untuk menunjukkan satu kesedihan dari gambaran situasi yang disebutkan pada bagian kalimat yang mengawali pernyataan “di situ” tersebut. Pendek kata, di situ pada rangkaian kalimat yang ngepop belakangan ini tak ada sangkut pautnya dengan keterangan tempat.

Apakah hal itu sebuah kekeliruan yang disengaja? Atau, apakah itu penanda seseorang agar disebut gaul?

Seringkali saya dibuat bingung dengan penggunaan beberapa kata yang kerap wara wiri di media sosial. Di antara sedikit yang saya catat adalah ‘sik’ untuk menggantikan ‘sih’. Contoh lainnya adalah ‘bingits’ yang menjadi pengganti ‘banget’.

Menghadapi fenomena tersebut, kembali saya bertanya-tanya, apa gunanya ‘sik’? Bagaimana mengucapkannya, apakah tetap ‘sih’ atau telah berubah menjadi ‘sih’? Pun dengan ‘bingits’, kata tersebut sebatas pada penulisan saja atau juga ada penyesuaian dalam pengucapannya?

Bagi saya keduanya menyusahkan, baik dari sisi penulisan maupun pengucapannya. Kalau Anda, apakah juga turut menggunakan tiga lema baru tersebut? Bagaimana perasaan Anda saat menggunakannya?

Pesan Bapak Tentang Perasaan Benar

Bapak saya yang nun jauh di kampung selalu punya cara sendiri untuk mengomentari satu peristiwa. Tentu saja beliau tak ikut cemuwit di twitter atau nyetatus di facebook.

Senjatanya adalah sms kepada anaknya ini. Misalnya saja sms-nya tentang fenomena perseteruan dua lembaga negara yang terjadi hari-hari ini.

Tempat beliau tinggal jauh dari epicentrum peristiwa. Suasana kampung yang lambat dan sepi juga membuat penilaian darinya berbeda. Kendati barangkali tak ada jeda berarti dalam rentang waktu penerimaan berita, namun catatan darinya seperti berjarak, mengamati dari jauh, tak hendak buru-buru berkomentar.

Maka berikut ini saya bagi sms dari beliau, terutama sebagai pengingat saya sendiri.

Mas, sebagai renungan sebelum tidur. Terjadinya perselisihan dr yg kecil sampai yg besar berawal dr perasaan merasa benar. Selanjutjya, bila hal tsb diekspresikan, maka akan timbul pendpt benar. Pendpt benar yg tdk  dilandasi dg kejujuran akan tumbuh perasaan merasa benar yg buta yg bertentangan dg kebenaran itu sendiri. Bila hal ini dipelihara dpt menjadi bibit perselisihan. Slmt merenung.

Apakah hari ini Anda sudah menerima pesan dari Bapak?

Simon Sinek: Kekuatan Kepercayaan

Thousands-expected-at-King-memorial-unveiling-BTA3U25-x-large

Pada musim panas tahun 1963, 200 ribu orang berkumpul di depan sebuah mall di Washington untuk mendengar pidato Dr. King. Saat itu tak ada undangan dan juga tak ada website untuk mengetahui kapan tanggal berkumpul. Jadi bagaimana mereka bisa melakukannya?

Dr. King tidak berkeliling Amerika untuk menyampaikan apa yang perlu dilakukan. Dia senantiasa bicara apa yang membuatnya percaya. “Saya percaya…. saya percaya….” dia terus berkata begitu kepada orang-orang. Kemudian para pioneer yang percaya kepada Dr. King menularkan kepercayaan tersebut kepada orang lain, yaitu mayoritas awal. Begitu seterusnya hingga akhirnya, dua ratus ribu orang berkumpul di hari dan waktu yang tepat.

Berapa orang di antara mereka yang alasan kehadirannya adalah untuk Dr. King?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah: tak ada!

Mereka hadir untuk diri sendiri. Mereka percaya apa yang tepat untuk Amerika, sehingga bukanlah menjadi persoalan jarak yang jauh atau menempuh bis selama delapan jam. Saat itu bukan lagi soal kulit hitam dan putih karena di antara mereka yang hadir seperempatnya adalah orang kulit putih.

Orang-orang datang bukan untuk Dr. King, namun mereka mempercayai hal yang sama dengan beliau. Mereka hadir terutama untuk dirinya sendiri. Bahkan, ketika saat itu Dr. King bicara mengenai mimpi-mimpinya dan belum mewujud menjadi rencana-rencananya.

Tipe Pemimpin

Ada dua tipe pemimpin di dunia ini, yakni seorang pemimpin dan mereka yang memimpin. Pemimpin memegang kekuasaan atau otoritas. Namun, mereka yang memimpin dapat menginspirasi kita. Entah itu seseorang atau organisasi, kita mengikuti mereka yang memimpin bukan karena kita harus, namun karena kita ingin melakukannya. Kita mengikuti mereka yang memimpin bukan untuk mereka, namun untuk diri kita sendiri.

Mereka yang memimpin adalah yang memulai dengan bertanya ‘kenapa?’ Mereka memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang di sekitarnya atau mencari inspirasi dari sekitar.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini: