Saat Anda tak suka dengan pekerjaan

Banyak orang yang tak menyukai pekerjaannya sekarang. Barangkali Anda termasuk satu di antaranya.

Banyak alasan kenapa seseorang tak betah dengan profesinya. Salah satu contohnya adalah karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Bos Anda adalah seseorang yang menyebalkan, teman Anda pun tak menyenangkan, Anda benci dengan toilet di kantor, dll.

Permasalahannya, Anda tak bisa dengan gampang untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena keahlian Anda sudah pas dengan posisi Anda sekarang. Selain itu, tak banyak lowongan pekerjaan yang sesuai untuk Anda.

Anda pun kemudian harus menyesuaikan diri dan menerima keadaan. Betapa tidak menyenangkannya pekerjaan Anda, namun karena berbagai sebab Anda tetap harus menjalaninya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah sebisa mungkin Anda melakukan adaptasi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih menerima berbagai kondisi yang tak sesuai dengan keinginan Anda. Adaptasi dan menerima, kita rasanya sudah terbiasa dan ahli untuk melakukannya, bukan?

Tak jarang Anda merasa iri melihat profesi orang lain dan betapa mereka menikmatinya. Menjadi pramugari sepertinya menarik, menjadi penulis rasanya sungguh membanggakan, tukang rokok kok tampaknya damai dan bisa bersantai. Diam-diam Anda memimpikan pekerjaan tersebut, sudah timbul keinginan dalam diri Anda untuk beralih profesi.

Saya memiliki pengalaman menarik manakala menyaksikan seorang pramugari beraksi.

Seperti juga Anda, saya pun membayangkan sungguh menyenangkan menjadi seorang pramugari yang bisa terbang ke mana pun, melihat tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, selalu rapi, bersih dan wangi. Saya dengar gajinya pun menggiurkan nilainya. Siapa yang tak tertarik dengan segala hal tersebut?

Saya baru tahu betapa beratnya pekerjaan pramugari dalam penerbangan antara Padang-Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat itu pesawat sudah mengangkasa dan tiba masanya bagi para pramugari untuk menyajikan makanan kepada para penumpang. Kebetulan saat itu memasuki daerah yang cuacanya buruk. Terang saja pesawat pun bergejolak menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

Di dalam pesawat, saya yang duduk dan sudah memasang sabuk pengaman kencang-kencang pun merasa khawatir dan takut. Bila tak malu, ingin rasanya saya berteriak atau membaca doa keras-keras.

Nah, pada kondisi tersebut, pramugari yang mendorong trolley makanan itu tetap melakukan aksinya. Mereka berdiri dengan tak tenang, sesekali harus memegang kursi. Terlihat begitu repot saat ingin menuangkan minuman atau mengambil makanan. Di tengah semua itu, mereka harus tetap tersenyum saat melayani para penumpang yang ketakutan.

Saya kira sungguh tak mudah dan susah dilakukan saat Anda takut, ingin berteriak, dan barangkali gemetar, namun harus tetap tersenyum dengan manis.

Saat pekerjaan kita terasa berat, barangkali tiba saatnya untuk melihat pekerjaan orang lain. Bukan hanya menyaksikan berbagai hal yang menyenangkan, namun intip juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi.

Saya kira, tak ada pekerjaan yang mudah.

Penyebab Macet di Jalan Hasyim Ashari

Kenapa harus selalu ada lubang di aspal?

Bertahun-tahun saya melintasi Jl. Hasyim Ashari di Jakarta Pusat, satu ruas jalan yang menghubungkan antara Harmoni sampai dengan ITC Roxy. Ruas jalan ini sangat penting karena menghubungkan Jakarta dengan Tangerang yang nantinya akan bersambung dengan Jalan Daan Mogot.

Ruas Jalan Hasyim Ashari tidaklah panjang, namun sangat sibuk. Tercatat antara Harmoni sampai dengan Roxy hanya berjarak 2,2 km. Namun, dengan jarak tak sampai 5 km tersebut ada tiga buah perempatan lengkap dengan lampu pengatur lalu lintas. Bila pagi atau sore hari saat jam sibuk, super sekali kepadatan kendaraan di ruas ini.

Perempatan menjadi biang keladi kemacetan. Saat perempatan pertama dari Harmoni sudah menyala hijau, ujung kendaraan yang berhenti di perempatan kedua belum juga berjalan. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan di tempat tersebut. Tak jarang, kendaraan banyak yang terkunci di perempatan tersebut tak bisa bergerak. Hal ini baru terjadi di satu perempatan, nah, silakan dikalikan tiga karena di sana ada tiga perempatan.

Selain perempatan, hal lain yang menyebabkan kemacetan adalah jalan layang di depan Roxy. Di sana terjadi penyempitan lajur dari yang semula tiga lajur menjadi dua lajur saja saat akan naik ke jalan layang. Otomatis terjadi efek leher botol yang membuat kendaraan berebut akan melintas di jalan layang. Seringkali manakala jam sibuk, ujung antrian sampai dengan perempatan antara Jalan Hasyim Ashari dan Jalan Biak.

Nah, selain perempatan dan leher botol karena akan masuk ke jalan layang, masih ada lagi penyebab kemacetan yang lain, yaitu seringnya ruas Hasyim Ashari digali. Saya kurang paham kenapa jalan yang tak panjang itu sering mengalami penggalian. Mulai dari perusahaan air, listrik, sampai seluler melakukan penggalian yang berbeda-beda waktunya. Satu perusahaan selesai menggali, tak lama kemudian perusahaan lain akan melakukan hal yang sama.

Hampir semua aktivitas penggalian dilakukan dengan cara yang sama. Mula-mula mereka akan menghancurkan aspal dan kemudian dilanjutkan dengan upaya penggalian. Di sekeliling lubang akan dipasang seng-seng sebagai pembatas dan melindungi pekerja dari kendaraan yang melintas. Petugas akan membuat banyak lubang di sepanjang ruas jalan. Jarak antara satu lubang dengan lubang yang lain pun sudah ditentukan.

Kini di ruas jalan itu pun banyak lubang, banyak seng yang melindungi lubang, dan banyak penggali yang melakukan pekerjaannya. Oh iya, banyak juga gulungan kabel atau material lain yang nantinya akan dimasukkan ke dalam lubang. Silakan Anda bayangkan bagaimana ruwetnya kondisi tersebut saat ribuan kendaraan berjuang melintas ruas jalan yang tak terlalu lebar itu.

Setelah upaya penggalian selesai dilakukan, muncul masalah lain. Bekas lubang penggalian jarang yang ditutup dengan benar. Tidak seperti saat mulai penggalian dengan menghancurkan aspal, bila sudah selesai tak ada aspal yang menutupi bekas lubang itu. Hasilnya adalah ruas jalan yang berlubang-lubang tak rata dan sangat membahayakan pengguna kendaraan.

Saya senang karena beberapa waktu yang lalu, di ruas jalan depan Roxy yang mengarah ke Harmoni sudah diaspal bagus dan halus. Hal tersebut dapat membantu kelancaran laju kendaraan meskipun masih harus terhenti-henti karena lampu merah. Namun, saya khawatir sebentar lagi akan ada upaya penggalian di jalan yang sudah diaspal itu.

Di sepanjang ruas jalan yang tak lebih dari 5 km itu terjadi kemacetan dengan berbagai sebab. Saya tak punya usulan solusi yang jitu untuk mengatasinya. Harapan saya, dengan memaparkan identifikasi persoalan yang terjadi di sana bisa membantu pihak yang berwenang untuk merumuskan kebijakan yang tepat.

Terima kasih.

Pro dan Kontra saat Satpam Mengatur Lalu Lintas

Apa peran satpam di tiap kantor?

Di Jakarta, setiap kantor selalu memiliki satpam. Biasanya mereka adalah orang pertama yang akan Anda temui saat bertandang ke sebuah institusi.

Peran beliau pun bermacam-macam. Saat Anda datang, beliau akan membantu mengarahkan kendaraan ke tempat parkir. Manakala Anda turun, beliau akan berada di pintu untuk membukakannya dan mempersilakan Anda masuk. Saat Anda bingung ke bagian mana harus menuju, ke lantai berapa, ke unit kerja apa, maka beliau-beliau ini akan dengan senang hati membantu.

Peran satpam berbeda antara satu kantor dengan lainnya. Di kantor besar atau bank, peran beliau tak begitu banyak. Selain menjaga keamanan dan menunjukkan tempat parkir, membuka pintu, sampai dengan menunjukkan unit yang Anda tuju, rasanya tak ada lagi yang bisa beliau lakukan. Urusan Anda yang sebenarnya kemudian akan dibantu oleh teller atau resepsionis.

Kondisi yang berbeda dapat Anda temui di kantor kecil. Di sini satpam berperan juga sebagai resepsionis karena menerima kedatangan Anda sampai dengan meminta tamu yang datang untuk mengisi buku tamu. Tak jarang, di kantor jenis ini satpam pun mengantarkan tamu yang datang sampai ke tempat yang ingin dituju.

Disadari atau tidak, peran satpam sungguh membantu bagi tamu yang asing di suatu kantor.

Namun, ada pula peran lain satpam yang rasanya makin marak akhir-akhir ini, yaitu sebagai petugas parkir bagi para bos. Manakala bos datang, mereka seperti punya indera keenam dan sudah mengamankan jalan masuk dengan cara menahan lalu lintas di sekitar gerbang. Pun ketika tiba saatnya bos pulan, mereka akan heboh mulai dari membuka pintu sampai dengan mengatur lalu lintas di depan kantor agar mobil bos bisa melaju dengan lancar.

Aktivitas para satpam yang membantu para bos untuk keluar masuk kantor tersebut terkadang menimbulkan kemacetan. Lihatlah di kawasan Gatot Subroto dari Cawang sampai kawasan Gedung DPR/MPR, Senayan dan sebaliknya. Di sana berderet perkantoran dan tiap kantor memiliki satpam yang selalu sigap membantu para bos keluar masuk kantor menembus lalu lintas sangat padat di arteri Gatot Subroto. Setiap ada bos yang akan masuk atau keluar kantor, pasti beliau-beliau ini akan menahan laju lalu lintas. Akibatnya, kemacetan tak dapat dihindari karena laju kendaraan harus tertahan-tahan dihentikan para satpam.

Ada beberapa antisipasi yang dapat diambil untuk mengatasi kemacetan akibat peran satpam. Satu di antaranya adalah dengan membuat jalan keluar di belakang tiap gedung dan kemudian dibuatkan satu muara keluaran ke jalur utama.  Konsekuensi dari hal ini adalah lalu lintas hanya tertahan di satu tempat saja atau dibuatkan lampu pengatur lalu lintas antara yang keluar masuk ke jalur khusus ke tiap gedung tersebut dan bagi kendaraan yang akan tetap melaju di jalur utama.

Peran satpam memang sangat penting bagi kenyamanan dan keamanan kantor. Namun, saya sangat berharap agar peran mereka yang demikian bermanfaat tersebut tak ditambah dengan kegiatan yang justru menimbulkan kemacetan di jalan raya.

merangkum yang terserak, memungut yang tercecer