batas ruang

bingkai kata tak terbatas

Tiga Tanya

Thursday, 2 July 2009 pukul 5:00 WIB 4 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam loteng baca

Bagaimana menurutmu?

Terlampau bergegas kata-kataku; tak sabar. Ada jeda yang ditabrak, ada aturan dilabrak.

Bagaimana menurutmu?

Terlampau tergesa kalimat-kalimatku; tak nikmat. Ada hela yang dilanggar, ada yang lompat pagar.

Tidak nikmat, bukan?

Laksana pendoa yang tak khusuk, runduk pada sujud dan rukuk.

Aku Pulang

Monday, 29 June 2009 pukul 0:00 WIB 5 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam pintu jiwa

“Aku kan pulang ke rumah segera, karena aku pun sangat mencintaimu.”

Hari berganti lagi, siang datang malam menjelang. Sendiri, itu kata yang pas. Tak hanya kata, namun sebenarnya terjadi. Hanyalah raga yang berjalan, karena telah kutinggalkan hati dan rasaku saat aku meninggalkanmu pagi itu.

Suatu malam di jalan ketika kukemudikan perlahan mobilku. Tak ada yang terpikir olehku selain kemacetan yang membuatku penat. Kuhitung jarak, masih setengah jalan ke rumah. Kulirik jam digital yang berpendar kehijauan di dashboard, 09.10 waktu yang ditunjukkannya.

Kurasakan getaran lembut di saku hem biru mudaku. Sebuah panggilan menyapa handphoneku. Tak tergesa kuambil hape dan melihat siapa yang menelepon. Di layar kecilnya kulihat ‘home’. Sambil bertanya-tanya, tak segera kutekan tombol di bawah tanda ‘answer’. Ada apa batinku, sehingga dia perlu menelepon? Padahal kupikir pastilah dia telah tertidur.

“Sayang, ini sudah malam. Apakah semua baik-baik saja?”

Tak ada jawaban yang terdengar, hanya diam yang melingkupi mobil. Memang saat itu tidak radio tak juga tape kunyalakan. Dengung lembut AC sedikit bisa kudengar, sampai sebuah suara, suaranya terdengar.

“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang. Kapan kamu pulang?”

“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”

Kemudian diam lagi dan kembali kesendirian menyergapku. Namun, dia telah membebaskanku. Kupejamkan mata dan aku bermimpi tentangnya. Dia jauh, tanganku tak bisa memeluk dan mendekapnya. Kendati aku tahu benar seluruh tubuhnya, dirinya, memenuhi rongga-rongga di hatiku. Seulas senyumku saat kembali kuingat bisiknya dalam gelisah.

“Aku sayang kamu, entah kenapa aku sayang, kapan kamu pulang?”

Ah, macet ini memperlambatku. Tak sabar kuingin segera mendekapnya. Walaupun macet ini tak kuasa hentikan kagumku. Padanya gadis kecil empat tahun, anakku. Dia yang tahu benar apa yang perlu dikatakan untuk membuatku kembali hidup, bersemangat dan tak sendiri.

“Aku pun sayang kamu, aku tiba di rumah sebentar lagi.”

Dan, semoga belum terlambat untuk membacakanmu cerita, nyanyikan lagu pengantar tidur.

“Five For Fighting-I Just Love You”

Tafsir Kitaro IV

Thursday, 25 June 2009 pukul 6:00 WIB 0 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam tak terjelaskan, tetirah lain

Spirit Of The West Lake

Di sini semua terjadi, kawan.

Kelahiran ikan-ikan, perburuan dan kematiannya sekaligus. Di tengah air yang beriak karena gerakan mereka. Sebentuk perayaan kehidupan tatkala bertahan hidup berarti adalah pembunuhan dan perampasan nyawa liyan. Manakala berkuasa dan memimpin, menjadi raja.

Percintaan dua angsa yang seperti tidak perduli pada sekitar. Bercumbu, bergandengan tangan kian kemari. Membentuk dunia sendiri.

Sebuah bayangan rembulan di permukaan danau yang membuat jangkrik menahan nafas tidak berkerik. Daun bambu enggan berisik dan angin pun malas mengusik.

Jiwa-jiwa di sini merayakan cinta, merayakan kehidupan. Meski tidak selalu dengan meriah, walau terkadang berkubang sunyi. Di antara luka, dendam dan iri hati.

Meski tanya masih juga mengemuka, kapankah jiwa-jiwa tenang? Setenang jiwa yang menaungi danau ketika bulan bisa bercermin melihat bayangan wajahnya sendiri. Tidakkah pernah akan terjadi?

Album : Kitaro-Impressions Of The West Lake

Sridewanto Edi/220509

Hati Mesin

Tuesday, 23 June 2009 pukul 10:13 WIB 6 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam jendela dunia

San Fransisco, 2018

Kota dikuasai mesin, dijaga ketat di semua sudut benteng. Mesin-mesin dengan ukuran yang besar dilengkapi senapan dan sensor yang tak pernah berhenti bergerak, berputar-putar di sumbunya mengawasi wilayah operasinya masing-masing.

T-600 nama mesin lain yang berjalan, bisa berkeliling dan sangat kejam mengawasi tawanan. Adapun tawanan itu adalah manusia yang nasibnya sudah seperti kambing saja, diangkut, digiring dan dimasukkan ke dalam kandang-kandang yang bernama sel. Saya kira tak ada padanan yang lebih pas selain seperti tempat penjagalan manusia. Mereka ditangkapi, dibawa dengan kendaraan khusus, diturunkan di tempat yang telah ditentukan, dikumpulkan untuk kemudian dipisah-pisahkan lagi masing-masing masuk ke dalam sel.

Kemudian apa muara dari itu semua? Kematian bagi umat manusia.

Ras manusia melawan ras mesin. Bersatupadu memberontak. Bagaimanapun seseorang yang tertindas akan menggeliat, melawan sebagai akibat kehendak bebas. Pada titimangsa ini, manusia tak lagi memedulikan perbedaaan di antara mereka. Tak lagi warna kulit, tak lagi agama, tak juga politik. Begitu indah ternyata bila persatuan dan persaudaraan bisa terjalin demikian kuat, menjadi timbul pertanyaan, apakah seluruh umat manusia baru bisa bersatu bila menghadapi musuh bersama?

Kendati demikian, masih ada juga yang berbeda. Motif kepentingan yang menjadi alasannya. Kepentingan untuk berkuasa, untuk berjasa dan dianggap sebagai pahlawan. Maka kemudian, muncullah pertentangan di antara manusia yang nampaknya menjadi hal yang lazim dan lumrah.

Pertentangan itu memuncak saat sebuah perintah penyerangan ke pusat kota mesin datang dari komandan yang berada di kapal selam. Padahal di kota itu, kota penjagalan manusia itu, ada ribuan manusia lain yang mesti diselamatkan.

Syukurlah karena masih ada manusia lain yang memiliki hati. Tidak gelap mata asal serang yang justru akan membinasakan manusia lainnya. Barangkali di sinilah perbedaan antara manusia dan mesin. Seperti juga ditegaskan di bagian akhir cerita. Adanya hati, perasaan yang dimiliki manusia. Sesuatu yang tak pernah bisa dimiliki oleh mesin bagaimanapun hebatnya. Program, sistem, chip, apapun yang bisa mewakili hati dan perasaan tak pernah bisa diciptakan untuk kemudian ditanamkan ke mesin-mesin itu.

Namun, kekhawatiran lambat laun mengemuka juga. Bagaimana bila manusia sudah tidak menajamkan rasanya? Pekerjaan, rutinitas, rasa-rasanya perlahan namun pasti telah mengubah sedikit demi sedikit menusia menjadi semacam robot. Kekuatan modal telah cukup untuk mengubah menusia menjadi sekadar alat-alat produksi tak ubahnya mesin, tak ubahnya robot. Saat jeda kian sulit ditemukan kapan saatnya. Ketika menghela nafas pun barangkali ada undang-undangnya. Manakala mengeluh saja harus menaati peraturan—padahal untuk mengeluhkan peraturan, misalnya. Maka bersiaplah, tak lama lagi nampaknya sebuah kota akan dikuasai oleh mesin.

Oiya, jangan lupa, sobat, sebelum itu terjadi nanti, maka bersiap-siaplah dengan sebuah nama berbau mesin untuk Anda sendiri. Sudah ketemu nama itu?

Cemburuku Bila Kau Mandi

Saturday, 13 June 2009 pukul 6:00 WIB 10 komentar
Ditulis oleh Sridewanto Edi dalam kamar hati

Sedari mula kamu masuk aku sudah dibikin cemburu. Kamu dan kamar mandi hanya berduaan saja. Arrggghhh….

Tembok, pintu, gantungan baju, wadah sabun, pasta gigi, sikat gigi, botol shampo, handuk yang disampirkan membuatku jengkel semua. Apa hak mereka menjadi saksi kamu yang melolosi satu demi satu pakaianmu? Tiada janji terucap antara mereka denganmu yang membuat mereka berhak melihatmu polos tanpa sehelai benang pun.

Pasta dan sikat gigi mula-mula yang membuatku nanar. Bagaimana tidak bila mereka berdua berpadu-padan semacam berdansa di rongga mulutmu. Memang sasaran utama mereka adalah gigimu yang rapi terawat. Namun, dalam tarian mereka, bukankah akan menyentuhi bibirmu yang ranum? Seiring gerak mereka, tidakkah akan menyenggoli lidahmu yang liat, lentur dan terasa manis? Lantas apa yang tersisa untuk bibir dan lidahku?

Sekuat tenaga kutahan keinginanku agar tidak membanting-banting sabun. Atas nama penghematan saja, maka tidak kulakukan hal itu. Padahal di lubuk hati terdalam ingin betul aku membantingnya di lantai kamar mandi yang keras agar ia percah berkeping-keping. Sebenarnya, niatku terjahat adalah merendamnya di bak mandi agar ia mencair, melebur bersama air dan hilang, musnah. Semua berawal dari kebiasaan sabun itu menelusuri setiap centi permukaan kulitmu. Kamu bercerita, biasanya akan mulai menggosok-gosokkannya di antara dua telapak tanganmu. Betapa hangatnya? Kemudian sabun itu akan menelusuri tangan, pundak, leher dan…dan…dan…Arrrggghhh….Bahkan, sepertinya tiada sudut, tiada lipatan, tiada bagian tersembunyi yang akan luput dari perhatian si sabun sialan itu.

Di luar kamar mandi bila kau tahu, telah kusiapkan minyak tanah dan korek api. Semua itu hadiah kepada handuk keparat. Ingin aku membakarnya. Perannya tak jauh berbeda dengan sabun, yakni menyentuhi setiap mili bagian-bagian tubuhmu. Mulai dari menelusup di antara batang-batang rambutmu yang basah sehabis keramas, mengelus lembut wajahmu, bermain-main di telingamu, dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan sebagainya. Sial!

Anehnya, mereka semua berperan pada kerinduanku, pada takjubku, pada kagumku saat kusentuh kulitmu yang sedikit basah, tatkala kuciumi harum aroma tubuhmu selepas mandi, manakala ada tetesan air yang jatuh dari ujung-ujung rambutmu. Pendek kata, aku takkan lupa momen yang kamu sajikan sehabis mandi.