Pagi menjelang, bus tak selalu penuh. Bila beruntung, kau pun bisa memperoleh tempat duduk.
Baik juga bila berdiri, karena masih mungkin bagimu mengubah-ubah posisi berdiri. Dan mereka yang duduk, seperti terkena kutukan dari Dewa Kantuk.
Kantuk itu datang menyapa mereka yang duduk. Si Bapak dengan setelan necis dan rambut klimis pun kena. Si Mba dengan jilbab aduhai, atau yang berperona pipi merah, juga yang rambutnya melambai, semua terkena sapaan sang kantuk.
Percayalah, kawan, secantik atau seganteng apa pun kau saat berangkat tadi, bahkan mungkin juga wangi, namun kalau kau tidur dengan mukut terbuka, ganteng dan cantikmu itu pun mengalami penurunan 70 persen. Sayang sekali, bukan?
Saranku sederhana, kenakan masker dan kau pun aman. Kami yang berdiri tak perlu menjadi saksi mulutmu yang menganga. Namun, bila kau piawai mengatur posisi tidur, aturlah agar tidurmu itu tidur yang sopan, yang menunduk bukan menengadah. Bisakah, kau?
Sore datang, bus pun lebih penuh dengan manusia, lengkap dengan baunya, komplit dengan keringatnya. Perpaduan apik antara antri lama, kemacetan dan jumlah armada bus yang sedikit menjadi pemicu bau dan keringat itu. Habis, mau bagaimana lagi?
Saat senja datang, semua orang ingin pulang. Bagai burung yang sudah rindu sarang setelah seharian berjalan melenggang.
Di saat seperti ini emosi mudah menyeruak. Sikut pun digunakan agar jalan masuk ke bus terkuak. Tak jadi soal bila yang kena sikut itu anak kecil atau orang tua yang lebih layak. Semua bersicepat untuk mendapatkan satu tempat duduk, atau sekadar tubuhnya bisa masuk.
Penumpang pun ada yang berdiri atau duduk terkantuk. Ada yang tidur betul, ada yang pura-pura tertidur. Biar saja andaikata ada wanita yang berdiri. Ibu-ibu pun terkadang harus bersusah payah menembus kepadatan penumpang yang berdiri dekat pintu masuk. Mereka berjinjit, menggapai-gapai pegangan yang letaknya terlampau tinggi.
Halte yang dituju pun menjelang, penumpang yang akan turun bergeser mendekat ke pintu. Satpam sibuk mengumumkan halte apa yang ada di depan, pilihan transit, awas copet, dan peringatan agar hati-hati melangkah.
Penumpang kemudian turun, melepaskan penat, meluruskan tubuh, menggerak-gerakkan lengan dan kembali berjalan. Sampai besok, monster besi, kotak, pemangsa manusia.
Sumber gambar


