Kenapa tak ada demo di Canberra?

IMG_3182

Berkunjung ke Gedung Parlemen Australia

Demo sebenarnya ada di depan Old Parliament House sana yang dilakukan oleh orang Aborigin agar memiliki hak politik di Australia. Demo yang ingin saya utarakan di sini adalah demo menyangkut kesejahteraan, upah, keyakinan, dan lainnya.

Selama sebulan saya tak pernah melihat sekalipun demo mengenai hal-hal itu. Saya amat-amati, rupanya di sini semua kebutuhan dipenuhi oleh pemerintahnya. Pesepeda memiliki jalur sepeda, anak-anak memiliki taman bermain yang luas dan gratis, pehobi olah raga disediakan berbagai fasilitas dan berbagai contoh lainnya.

Pendek kata, apa yang terbersit sebagai keinginan dalam benak warga sudah terpenuhi, sehingga mereka tak sempat terpikir untuk melakukan demo.

Hidup Memberi Apa?

celebrating_life

Hidup itu seringkali memberikan apa yang sangat kita inginkan justru ketika kita berhenti mengharapkannya.
Hidup memberi apa yang kita perlukan tanpa disangka-sangka justru ketika kita tak berharap dan mengikhlaskan.
Hidup mengajarkan kepada kita agar bersabar.
Hidup juga memberi ketika kita sudah siap dan pantas menerima, dia memberikannya dengan murah hati.

Sumber gambar dari sini

Lisa Kristine: Wujud Perbudakan Modern

“Kita baru benar-benar merdeka manakala mereka yang berada dalam perbudakan telah bebas.” Archbishop Desmond Tutu

Saya berada 150 kaki di bawah lubang penggalian ilegal di Ghana. Udara terasa berat dengan panas dan debu, hingga sangat sukar untuk bernafas. Saya dapat merasakan tubuh yang kasar dan berkeringat berlalu lalang di kegelapan, namun tak banyak yang dapat saya lihat.

Saya mendengar suara, orang yang berbicara, namun kebanyakan adalah hiruk pikuk di dalam terowongan dan pria-pria yang terbatuk. Bunyi lain dalam terowongan itu adalah batu yang pecah dihantam peralatan tradisional.

Seperti yang lain, saya mengenakan senter murah yang berkelip, terikat di kepala menggunakan karet elastis yang sudah koyak. Saya hampir tak dapat menggerakkan anggota badan karena licin, terhimpit di dinding pada lubang seluas tiga kaki persegi, dan perlahan turun beratus-ratus kaki ke dalam bumi.

Flashlight_band

Ketika tangan saya terpeleset, seketika dalam benak saya terbayang seorang penambang yang bertemu beberapa hari yang lalu. Saat itu pegangannya terlepas dan jatuh entah berapa kaki ke dalam terowongan itu.

Saat saya bicara dengan Anda hari ini, para pria itu masih berada di kedalaman lubang, mempertaruhkan nyawa mereka tanpa gaji dan kompensasi, seringkali mereka sekarat.

Saya harus memanjat naik dari lubang itu dan pulang. Namun mereka, sepertinya tak akan pernah bisa pulang karena telah terjebak dalam perbudakan.

Climb_out_the_shaft

Selama 28 tahun terakhir saya telah mendokumentasikan kebudayaan warga pribumi di lebih dari 70 negara di enam benua. Pada tahun 2009 saya mendapat kehormatan dalam pameran pada Konferensi Perdamaian di Vancouver.

Di antara banyak orang luar biasa yang saya temui di sana, saya bertemu dengan sebuah NGO, Free the Slaves. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendedikasikan dirinya untuk penghapusan perbudakan di zaman modern ini.

Kami mulai berbicara mengenai perbudakan dan sungguh saat itu saya mulai belajar tentang perbudakan. Sebab, saya tahu hal ini pernah ada di dunia di masa lampau, namun tak sebesar saat ini.

Setelah kami selesai bicara, saya merasa sangat sedih dan juga malu karena kurangnya pengetahuan pada kekejaman yang terjadi sepanjang hidup saya. Kemudian saya berpikir, jika saya tak tahu, berapa banyak orang lagi yang tak paham bahwa perbudakan ini terjadi.

Apa yang terjadi kemudian adalah semagat yang tumbuh dalam diri saya, sehingga dalam beberapa minggu kemudian, saya terbang ke Los Angeles untuk bertemu dengan direktur Free the Slaves dan mencari tahu apa yang bisa saya bantu. Itulah yang mengawali perjalanan saya dalam perbudakan di zaman modern ini.

Anehnya, saya pernah ke berbagai tempat ini sebelumnya, bahkan beberapa telah menjadi seperti rumah kedua. Namun kali ini, saya ingin melihat apa yang selama ini tersembunyi jauh di belakang.

Sebuah perkiraan kasar menunjukkan ada lebih dari 27 juta orang diperbudak di dunia saat ini. Angka tersebut adalah dua kali lipat jumlah orang Afrika yang dibawa sepanjang masa perdagangan budak trans-Atlantik. Seratus lima puluh tahun yang lalu, perbudakaan di bidang agrikultur menelan biaya tiga kali lipat gaji tahunan seorang pekerja Amerika. Jumlah itu saat ini setara dengan 50 ribu dollar.

Namun hari ini, seluruh keluarga dari berbagai generasi dapat diperbudak hanya karena hutang sebesar 18 dollar. Sementara itu, perbudakan sendiri menghasilkan keuntungan sebesar 13 milyar dollar dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Banyak di antara mereka yang dijebak karena janji-janji surga, seperti pendidikan yang baik, kesempatan bekerja yang lebih baik. Sayangnya , mereka ternyata hanya diminta bekerja tanpa menghasilkan gaji, di bawah ancaman kekerasan, dan mereka tak bisa berlari.

Saat ini, perbudakan menjadi pasar, suatu keadaan untuk mendukung proses jual beli. Jadi, berbagai barang yang dihasilkan oleh para budak memiliki nilai yang tinggi. Sementara itu, mereka yang memproduksi justru sangat mungkin untuk ditendang.

Perbudakan ada di manapun, hampir di seluruh dunia, dan memang benar, hal itu adalah ilegal di seluruh dunia.

Di India dan Nepal, saya diajak ke tempat pembakaran batu bata. Pemandangan di sana sungguh aneh sekaligus mencengangkan. Seperti berjalan ke Mesir Kuno atau nerakanya Dante.

brick_carrier_women

Di tengah suhu yang mencapai 130 derajat, pria, wanita, anak-anak, seluruh keluarga terselimuti debu yang tebal. Mereka mengangkat batu bata di kepala, sekitar 18 buah sekali angkat. Kemudian bata tersebut dibawa dari tempat pembakaran ke truk yang menunggu cukup jauh.

Dicekam oleh pekerjaan yang monoton dan kelelahan, mereka bekerja dalam diam. Dikerjakan tugas yang sama itu berulang-ulang, selama 16-17 jam per hari. Mereka tak mendapatkan istirahat untuk makan dan minum, sehingga kebanyakan mengalami dehidrasi.

Di tengah panas dan debu itu, kamera saya menjadi terlalu panas untuk dipegang dan harus sering diistirahatkan. Setiap dua puluh menit saya harus berlari ke kendaraan, membersihkan peralatan dan menempatkannya di bawah pendingin ruangan agar dapat bekerja kembali. Saat itu, kamera saya rasanya mendapatkan perhatian yang lebih baik daripada para pekerja di sana.

brick_carrier

Kembali ke lokasi pembakaran, saya ingin menangis, namun pendamping saya mengatakan, “Lisa, jangan menangis di sini, jangan sekali-kali.” Kemudian dia menjelaskan dengan gamblang bahwa menunjukkan perasaan emosional kita sangatlah berbahaya di tempat semacam ini. Bukan hanya untuk saya, namun terlebih lagi untuk mereka. Saya tak bisa memberikan bantuan langsung atau pun uang, saya tak bisa membantu apa pun. Saya bukan warga negara itu, sehingga saya bisa membawa mereka ke situasi yang lebih buruk.

Di Himalaya, saya menemukan anak yang mengangkut batu menuruni gunung ke truk yang menunggu di bawah. Batu yang dibawa itu lebih berat dari pengangkutnya. Anak-anak itu membawa dengan cara menaruh bebatuan itu menggunakan kayu dan tali yang disangkutkan ke kepalanya.

kids_stone_himalaya

Sangat sulit melihat sesuatu yang begitu menyedihkan, bagaimana kita sangat terpengaruh oleh hal yang disembunyikan, namun juga begitu terlihat. Beberapa di antara mereka tak paham sedang berada dalam sistem perbudakan. Orang-orang yang bekerja 16-17 jam per hari tanpa dibayar, sebab ini adalah hidup mereka. Mereka tak tahu seperti apa kehidupan yang lain itu.

Ketika orang-orang itu mengklaim kemerdekaannya, maka para majikan akan membakar habis rumah mereka. Para budak tersebut sangat ketakutan dan ingin menyerah.

Perdagangan sex seringkali kita asumsikan ketika mendengar perbudakan dan karena kesadaran global tersebut, justru menjadi sangat berbahaya bagi saya jika ingin masuk untuk menginvestigasi lebih dalam industri ini.

Di Kathmandu, saya ditemani seorang wanita yang dulunya adalah budak sex. Mereka membimbing saya untuk turun melalui tangga ke satu tempat yang kotor dan remang-remang di basement.

stairs_sex_kathmandu

Sejatinya ini bukanlah rumah bordil, namun lebih mirip sebuah restauran. Restauran yang terdiri dari kamar-kamar, menjadi tempat untuk prostitusi yang terpaksa dilakukan.
Ruang-ruang kecil itu digunakan secara pribadi. Di sana para budak, para wanita atau lelaki kecil, beberapa masih berusia tujuh tahun dipaksa untuk menghibur para klien, mendorong mereka untuk membeli lebih banyak makanan dan alkohol.

Tiap ruang dalam kondisi gelap dan kotor. Masing-masing dikenali dari nomor yang ada di tembok, kemudian dipisahkan menggunakan plywood dan tirai. Para pekerja di sini sering mengalami kekerasan seksual dari pelanggannya yang berakhir tragis.

Berdiri di sana membuat saya bisa merasakan ketergesaan, ketakutan yang dalam, dan seketika saya membayangkan bagaimana rasanya terperangkap di neraka tersebut. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar, yaitu melalui tangga di mana saya tadi melangkah, tak ada pintu belakang, tak ada jendela yang besar dan cukup untuk kabur. Mereka sama sekali tak punya peluang untuk melarikan diri.

Sangat penting untuk dicatat, bahwa saat kita membicarakan perbudakan, termasuk perdangangan sex, sungguh-sungguh terjadi di halaman belakang kita.

Sepuluh per seratus orang diperbudak dalam bidang pertanian, restauran, rumah tangga, dan daftar itu masih terus bertambah. Laporan baru-baru ini dari New York Times mengatakan, bahwa antara 100-300 ribu anak di Amerika dijual menjadi budak sex setiap tahunnya.

Itu terjadi di sekitar kita, hanya saja kita tak melihatnya.

Industri tekstil adalah tempat lain terjadinya perbudakan. Saya mengunjungi sebuah desa di India di mana satu keluarga menjadi budak dalam perdagangan sutera.

silk_slavery

Ini adalah gambar dari keluarga tersebut. Tangan yang menghitam adalah ayah, sementara yang memerah, dan membiru anak-anaknya. Mereka mencampurkan pewarna dalam sebuah drum, kemudian mencelupkan sutera ke dalamnya menggunakan tangan sampai ke siku. Pewarna itu sendiri adalah racun.

Penerjemah saya menceritakan kisah mereka. “Kami tak punya kemerdekaan,” mereka berkata, “Kami berharap bisa meninggalkan rumah ini suatu hari nanti dan pergi ke tempat lain di mana kami mendapatkan bayaran untuk mewarnai.”

Diperkirakan lebih dari empat ribu anak di Danau Volta–danau buatan terbesar–di Ghana. Saat pertama kali datang, saya melihat sekilas, tampak seperti satu keluarga berada di perahu menjala ikan. Mereka adalah dua orang remaja yang lebih tua dan adik-adiknya, tampak seperti sebuah keluarga, bukan?

fish_slavery

Sayang, ternyata mereka tidak memiliki hubungan keluarga. Mereka semua telah diperbudak. Anak-anak diambil dari keluarganya, diperjualbelikan, dan kemudian hilang. Di sana mereka dipaksa untuk bekerja tanpa henti di atas perahu kendati tak tahu cara berenang.

Anak ini berusia delapan tahun. Dia gemetar saat perahu kami mendekat, ketakutan perahunya akan terbalik. Dia ketakutan kalau sampai tercebur ke air.

child_fish_slavery

Batang dan dahan pohon yang terendam di dalam Danau Volta sering menyangkut jala. Kemudian anak yang kelelahan dan ketakutan diceburkan ke air untuk melepaskan jala itu. Banyak di antara mereka tenggelam.

Seorang pekerja mengingat, bahwa dia dipaksa bekerja di danau. Ketakutan kepada tuannya, menyebabkan dia tak akan melarikan diri. Menerima perlakuan buruk nan kejam sepanjang hidupnya menyebabkan dia melakukan hal yang sama kepada orang yang lebih muda. Mereka yang berada di bawah komandonya.

Saya bertemua anak-anak itu pada pukul lima pagi ketika mereka mengangkut jala yang terakhir. Namun, rupanya mereka telah bekerja sejak pukul satu dini hari berteman angin dan dingin malam. Perlu juga dicatat, bahwa saat jala itu penuh ikan beratnya lebih dari seribu pound.

Kofi_fish_slavery

Saya ingin mengenalkan Anda kepada Kofi. Dia diselamatkan dari desa nelayan. Saya bertemu dengannya di tenda di mana Free the Slaves merehabilitasi korban perbudakan. Di sini, dia mandi di dekat sumur, mengguyurkan seember air ke kepalanya. Berita menggembirakan darinya adalah, saat kita duduk sekarang ini, dia sudah berkumpul dengan keluarganya. Selain itu, keluarganya juga mendapatkan berbagai peralatan untuk mencari nafkah dan memastikan anak-anaknya aman.

Menyusuri jalanan di Ghana, sekelompok orang di atas sepedanya mendekat dan mengetuk jendela kami. Mereka bilang agar kami mengikuti dan kemudian masuk ke dalam hutan. Di ujung jalan, mereka memaksa kami turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk segera pergi. Dia memimpin kami mengikuti satu jalan setapak, menyingkirkan berbagai halangan di depan.

Kami sampai di bagian jalan yang tersapu oleh banjir. Saat itu hujan, sehingga saya harus membawa berbagai peralatan fotografi di atas kepala. Saat kami turun, air bergerak naik hingga ke dada. Setelah dua jam berjalan di tengah angin dan hujan, kami sampai di lahan terbuka. Di depan kami, menganga lubang-lubang penggalian yang sangat besar seukuran lapangan bola.

Di dalam lubang itu penuh dengan orang yang diperbudak untuk bekerja. Banyak wanita menggendong anaknya di belakang, sembari mereka mencari emas, terendam di air yang beracun karena mercury. Zat yang digunakan dalam proses ekstraksi emas.

gold_slavery

Mereka ini adalah para budak di lahan tambang yang berada di Ghana. Saat keluar dari terowongan, mereka kuyup oleh keringatnya sendiri. Saya teringat bagaimana mata mereka menyiratkan kelelahan karena banyak yang telah berada di bawah tanah selama 72 jam.

Terowongan itu dalamnya 300 kaki dan mereka harus menaikkan batu-batu yang berat sebelum kemudian diangkut ke tempat lain di mana batu tersebut akan ditumbuk dan diekstrak emasnya.

Melihat sekilas, tempat penumbukan batu tampak penuh dengan para pria yang sangat kuat. Namun, begitu kita memerhatikan, banyak yang tidak beruntung bekerja di pinggir juga anak-anak. Mereka ini adalah korban yang terluka, sakit, atau mengalami kekerasan. Pria-pria kuat itu kemungkinan besar akan berakhir sama, yaitu menderita karena TBC dan juga keracunan mercury hanya dalam waktu singkat.

Manuru_gold_slavery

Adalah Manuru, saat ayahnya meninggal, Sang Paman mengajaknya bekerja di tambang. Kemudian saat pamannya meninggal, Manuru mewarisi hutang-hutang ayahnya. Hutang yang kemudian memaksanya lebih jauh untuk menjadi budak di pertambangan.

Saat saya bertemu dengan Manuru, dia telah bekerja di tambang selama 14 tahun. Betisnya yang cedera terjadi karena kecelakaan di tambang, seorang dokter bilang kalau kakinya harus diamputasi, selain itu dia juga memiliki TBC. Namun, dia tetap bekerja tiap hari keluar masuk terowongan ke tambang. Dia juga punya mimpi suatu hari nanti akan bebas dan dididik oleh aktivis lokal seperti Free the Slaves.

Saya ingin menyinari perbudakan. Manakala bekerja di lapangan, saya juga membawa banyak lilin. Kemudian dengan bantuan para penerjemah, saya berkata kepada orang-orang yang saya foto, bahwa saya ingin membuat cerita mereka bersinar. Maka ketika dirasa aman untuk mereka dan juga saya, saya membuat gambar-gambar mereka memegang lilin. Mereka tahu, gambar itu akan dilihat Anda dan tersebar ke dunia.

Candle_slaves

Saya ingin mereka tahu, bahwa kita menjadi saksi kehadiran mereka dan akan melakukan apa pun yang kita bisa untuk menolong. Bersama kita bisa membuat hidup mereka berbeda. Saya percaya, jika kita bisa melihat satu sama lain sebagai sesama manusia, maka akan sangat sulit menerima tindakan semacam perbudakan.

Gambar-gambar ini bukanlah masalahnya, mereka para pemegang lilin itu adalah sosok yang nyata seperti saya dan Anda. Semua memiliki hak, martabat, dan kehormatan yang sama. Saya berharap berbagai gambar ini membangunkan kesadaran dan kekuatan dalam diri mereka yang melihatnya termasuk Anda. Saya berharap kekuatan itu akan menyalakan api yang akan menyinari perbudakan karena tanpa cahaya tindakan brutal perbudakan akan terus berlangsung di balik bayang-bayang.

Sumber tulisan dari sini: